Harga Minyak Dunia Tembus US$ 100 per Barel, Setelah Serangan Houthi ke Kapal Saudi



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua bulan pada perdagangan Kamis (23/7/2026), setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi.

Serangan tersebut memperburuk gangguan distribusi minyak global yang kini terjadi di dua jalur pelayaran strategis, yakni Laut Merah dan Selat Hormuz.

Baca Juga: ECB Tahan Suku Bunga, Peluang Kenaikan pada September Masih Terbuka


Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 5,83 atau 6,2% menjadi US$ 99,90 per barel pada pukul 13.10 GMT. Brent bahkan sempat menyentuh level psikologis US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 4,41 atau 5,08% menjadi US$ 91,24 per barel. Ini merupakan kali pertama WTI kembali berada di atas US$ 90 per barel sejak 11 Juni.

"Prospek jangka pendek harga minyak tetap didukung karena pasar mulai memperhitungkan kemungkinan yang semakin besar terjadinya gangguan pasokan di jalur pelayaran utama kedua," kata Ahmad Assiri, Research Strategist Pepperstone.

Ketegangan meningkat setelah Houthi membuka front baru dengan menargetkan kapal-kapal pengangkut minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb. Sebelumnya, konflik sudah mengganggu arus pengiriman melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun Tajam, Pasar Tenaga Kerja Solid Jelang Rapat The Fed

Kelompok Houthi menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi dalam operasi militernya. Kantor berita Arab Saudi kemudian mengonfirmasi salah satu kapal terbakar setelah diserang saat berlayar di Laut Merah.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menyatakan sebuah kapal tanker minyak terbakar akibat ledakan saat mencoba melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau di bagian selatan Selat Hormuz, dekat pantai Oman. Dua kapal tanker lainnya dilaporkan memutar balik.

Iran juga mengklaim Selat Hormuz kini berada di bawah kendalinya dan "sepenuhnya ditutup" selama aksi militer Amerika Serikat masih berlangsung di kawasan tersebut. Teheran memperingatkan tidak ada kapal tanker yang diizinkan melintas tanpa koordinasi dengan Iran.

Militer Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan malam ke-12 berturut-turut serangan terhadap Iran, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump berjanji akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz.

Baca Juga: Freeport-McMoRan Lampaui Estimasi Laba Kuartal II Berkat Lonjakan Harga Tembaga

Di tengah meningkatnya risiko pasokan, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dapat melampaui US$ 120 per barel pada kuartal IV-2026 apabila gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga 2027.

Risiko kenaikan harga akan semakin besar jika gangguan juga meluas ke Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez.

Bank investasi tersebut juga memperkirakan harga minyak akan tetap bertahan di level tinggi sepanjang Juli dan Agustus karena persediaan minyak global terus menyusut.

Kondisi ini didorong oleh turunnya produksi Timur Tengah, tingginya permintaan perjalanan musim panas, serta melambatnya pelepasan cadangan minyak strategis.

Sementara itu, margin diesel Eropa juga mencatat rekor tertinggi. Pada 17 Juli lalu, margin diesel mencapai US$ 66,25 per barel, didorong larangan ekspor diesel Rusia setelah serangan berulang Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia serta kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Pada Kamis, margin diesel Eropa masih berada di level tinggi, yakni sekitar US$ 65,30 per barel.