Harga Minyak Dunia Tembus US$ 110 Kamis (22/10), AS Tarik Diplomat dari Arab Saudi



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Kamis (22/10/2026), setelah Amerika Serikat (AS) memerintahkan sejumlah diplomat dan anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik US$ 1,29 atau 1,2% menjadi US$ 110,11 per barel pada pukul 00.34 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 97 sen atau 1% menjadi US$ 98,12 per barel.


Baca Juga: Kekayaan 3 Orang Terkaya Indonesia Susut Rp106 Triliun Usai Peringatan MSCI

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Brent ditutup relatif stagnan pada perdagangan Rabu (21/10/2026), sedangkan WTI terkoreksi 67 sen per barel.

Departemen Luar Negeri AS juga berencana menarik anggota keluarga diplomat dari sejumlah misi diplomatik lainnya di kawasan Timur Tengah, menurut sejumlah pejabat AS kepada Reuters.

Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan ke sejumlah target di Arab Saudi pada Rabu.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai delapan lainnya di sebuah bandara sipil di Dammam. Serangan pesawat nirawak di sebuah ladang minyak Arab Saudi juga menewaskan dua orang.

Di sisi lain, ledakan terdengar di Sirik, wilayah selatan Iran, pada Rabu. Media Iran melaporkan bahwa sifat maupun sumber ledakan tersebut belum diketahui.

Baca Juga: Daftar Peraih Medali Indonesia di Asian Para Games 2026, Target Emas Terlampaui

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kepada Financial Times bahwa negaranya sepenuhnya siap mempertahankan diri.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa AS tidak dapat mengharapkan dialog selama masih memberlakukan blokade dan ancaman terhadap Iran.

Risiko gangguan pasokan minyak juga meningkat seiring bertambahnya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk. Data Kpler menunjukkan sedikitnya 18 serangan terhadap pelayaran terjadi dalam dua pekan terakhir.

Analis LSEG memperingatkan bahwa Iran menargetkan kapal tanker hingga ke wilayah di luar Selat Hormuz, termasuk Teluk Oman.

Situasi ini berpotensi mengganggu pemuatan minyak mentah dari negara-negara Teluk serta aktivitas pemindahan minyak antarkapal yang menopang distribusi minyak regional.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena meningkatnya risiko keamanan jalur pelayaran dapat menghambat distribusi minyak global dan mendorong kenaikan premi risiko harga energi.

Baca Juga: Gaji Karyawan Singapura Disiapkan Naik Mulai Desember 2026, Ini Besarannya

Persediaan minyak AS turun

Dari sisi fundamental, data persediaan minyak mentah AS turut menopang harga. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam turun 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan lalu.

Penurunan tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters, yang memperkirakan persediaan minyak mentah turun 820.000 barel.

Namun, persediaan produk sulingan yang mencakup diesel dan minyak pemanas justru meningkat 1,68 juta barel menjadi 104,3 juta barel. Angka ini berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 1,16 juta barel.

Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menawarkan pinjaman pasokan hingga hampir sepertiga dari cadangan darurat minyak pemanas AS yang berkapasitas 1 juta barel.

Departemen Energi AS menyatakan langkah tersebut bertujuan meredam harga yang melonjak akibat kelangkaan diesel di tengah perang di Iran dan Ukraina.

Baca Juga: BUMN Singapura Bantah Lobi MSCI Untuk Turunkan Status Pasar Saham Indonesia

Sementara itu, perkembangan diplomatik terkait perang Rusia-Ukraina turut menjadi perhatian pasar energi. Presiden Rusia Vladimir Putin menjamu Utusan Khusus AS Steve Witkoff di St Petersburg pada Rabu untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina.

Kremlin menyatakan Putin menyetujui dimulainya kembali perundingan damai yang dimediasi AS dengan Ukraina paling cepat bulan depan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy juga menyatakan dukungannya terhadap perundingan tersebut dan berharap prosesnya dapat segera dimulai.

Meski terdapat upaya diplomatik untuk meredakan konflik di Eropa, eskalasi ketegangan di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membayangi prospek pasokan minyak dan pergerakan harga energi global.