Harga Minyak Dunia Tembus US$111, UEA Keluar dari OPEC Tambah Tekanan Pasar Global



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan Selasa (28/4/2026), di tengah kekhawatiran pasokan akibat konflik Iran yang belum mereda dan gangguan di Selat Hormuz.

Namun, penguatan harga sempat terpangkas setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari OPEC dan OPEC+.

Melansir Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak Juni tercatat naik US$3,37 atau 3,1% menjadi US$111,60 per barel pada pukul 13.36 GMT.


Baca Juga: UEA Keluar dari OPEC dan OPEC+, Guncang Pasar Energi Global di Tengah Perang Iran

Sebelumnya, Brent telah menguat 2,8% pada sesi perdagangan sebelumnya dan menyentuh level tertinggi sejak 7 April. Kenaikan ini menandai penguatan selama tujuh hari berturut-turut.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni naik US$3,72 atau 3,7% menjadi US$100,09 per barel, setelah pada sesi sebelumnya menguat 2,1%. WTI juga sempat menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 April.

Tekanan geopolitik masih menjadi faktor utama penggerak pasar, terutama akibat tersendatnya upaya perdamaian konflik Iran yang membuat Selat Hormuz, jalur penting sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, masih terganggu.=

Baca Juga: Chery Perluas Ekspansi Global, Terapkan Strategi “Double T” ala Toyota dan Tesla

Namun, reli harga mulai terbatas setelah pengumuman UEA yang resmi keluar dari kelompok negara produsen minyak OPEC serta aliansinya OPEC+, langkah yang dinilai memberi tekanan tambahan bagi koordinasi produksi global.

“Minyak di atas US$110 per barel mencerminkan pasar yang sedang melakukan repricing risiko geopolitik dengan cepat,” ujar analis Rystad Energy, Jorge Leon.

Ia menambahkan, ketiadaan kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz membuat pasar memperhitungkan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

“Bahkan dalam skenario terbaik, kesepakatan AS–Iran kemungkinan tetap terbatas dan tidak menyelesaikan isu Selat Hormuz, sehingga risiko kenaikan harga masih tinggi,” katanya.

Sebelumnya, negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan kembali menemui jalan buntu setelah pertemuan langsung gagal mencapai kesepakatan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 3% Selasa (28/4), Seiring Kebuntuan Konflik Iran-AS Berlanjut

Di sisi lain, data pelacakan kapal menunjukkan masih adanya pergerakan terbatas di kawasan tersebut.

Sebuah kapal tanker berbendera Panama, Idemitsu Maru, dilaporkan tetap berusaha melintas membawa minyak dari Arab Saudi, sementara kapal LNG yang dikelola Abu Dhabi National Oil Co juga berhasil melewati Selat Hormuz.

Sebelum konflik, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, angka tersebut kini menurun tajam akibat ketegangan yang berlangsung.

Analis PVM, Tamas Varga, memperingatkan bahwa potensi hilangnya sekitar 10 juta barel per hari pasokan minyak dan produk turunannya dari jalur tersebut akan semakin memperketat keseimbangan pasar global.