Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Brent dan WTI Masih Menguat Sepekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Jumat (16/10/2026), tetapi masih berada di jalur penguatan mingguan.

Ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah, terutama akibat meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, serta penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang lebih besar dari perkiraan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga.

Mengutip Reuters, Jumat (16/10/2026), harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun 71 sen atau 0,67% menjadi US$ 105,21 per barel pada pukul 03.52 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 77 sen atau 0,79% menjadi US$ 97,20 per barel.


Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), harga WTI ditutup menguat lebih dari 3% setelah persediaan minyak mentah AS mengalami penurunan signifikan. Penurunan tersebut terjadi di tengah penghentian sementara produksi akibat dampak badai.

Secara mingguan, harga Brent telah meningkat 0,44%, sedangkan WTI melonjak 5,81%.

Baca Juga: Kualitas Udara Malaysia-Singapura Tembus Level Bahaya Akibat Asap Karhutla Indonesia

Analis ING menyebut ketidakpastian di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan aliran minyak melalui Selat Hormuz telah mendorong pasar memasukkan premi risiko yang signifikan ke dalam harga minyak.

"Ketidakpastian di Timur Tengah dan kekhawatiran mengenai keberlanjutan aliran minyak melalui Selat Hormuz membuat pasar memperhitungkan premi risiko yang signifikan," tulis analis ING dalam catatan pada Jumat.

Mereka menambahkan, diperlukan kesepakatan antara AS dan Iran untuk meningkatkan keyakinan pasar bahwa aliran minyak dari kawasan tersebut dapat terus berlangsung dengan lebih kuat.

Ketegangan Selat Hormuz Tekan Pasokan Minyak

Kekhawatiran terhadap pasokan minyak meningkat seiring melonjaknya serangan di sekitar Selat Hormuz selama 10 hari terakhir. Iran menyatakan meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhannya serta sanksi yang diperketat pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan data perusahaan pelacakan kapal Kpler, rata-rata volume minyak yang melintasi Selat Hormuz selama tujuh hari hingga 13 Oktober mencapai 11,62 juta barel per hari. Angka tersebut setara dengan sekitar 68% dari volume dasar sebesar 17,15 juta barel per hari.

Analis Kpler menyatakan, peningkatan serangan Iran telah menyebabkan penurunan tajam aliran minyak mentah dari kawasan Teluk.

"Peningkatan serangan Iran mendorong penurunan tajam aliran minyak mentah dari kawasan Teluk," kata analis Kpler dalam laporan pada Kamis (15/10/2026).

Mereka memperkirakan pemulihan arus pelayaran melalui Selat Hormuz akan berlangsung lebih lambat dan tidak merata apabila tidak ada kesepakatan politik yang menyeluruh.

Konflik regional juga semakin meluas. Kelompok Houthi meluncurkan rudal ke kompleks istana kepresidenan di Aden, Yaman selatan, pada Kamis dan menewaskan dua penjaga. Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melaporkan puluhan serangan terhadap infrastruktur Arab Saudi di tengah eskalasi konflik.

Baca Juga: John Ternus Ungkap Rahasia di Balik iPhone Duo, Disiapkan Selama 15 Tahun

IEA Lepas Cadangan Minyak untuk Redam Harga

Di tengah tekanan pasokan, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) pada Kamis menyepakati pelepasan lebih dari 20 juta barel solar ke pasar. IEA juga akan menyalurkan sisa minyak dari pelepasan cadangan darurat dalam jumlah rekor yang dijanjikan pada Maret.

Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan pasokan dan meredam lonjakan harga energi.

Namun, upaya itu belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Haitong Futures menilai kenaikan harga minyak pada sesi perdagangan sebelumnya menunjukkan investor belum puas dengan langkah-langkah yang ditempuh untuk mengatasi tekanan pasokan.

"Apa yang benar-benar dapat meredakan pasar minyak adalah meredanya ketegangan di Timur Tengah," tulis Haitong Futures dalam catatan pada Jumat.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa perkembangan geopolitik masih menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga minyak, di tengah upaya penambahan pasokan melalui pelepasan cadangan darurat.

AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi terhadap Kapal Minyak

Selain upaya pelepasan cadangan minyak, pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap sejumlah kapal yang dikenal sebagai armada bayangan atau shadow fleet.

Baca Juga: Harga Bahan Bakar Kapal Naik 70%, Perusahaan Pelayaran Ubah Strategi

Kapal-kapal tersebut digunakan untuk mengangkut minyak dan produk minyak bumi dari sejumlah negara, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela. Menurut seorang pejabat AS pada Rabu (14/10/2026), opsi tersebut dipertimbangkan sebagai upaya menekan tarif angkutan laut global yang telah mencapai rekor tertinggi.

Pembahasan itu berlangsung beberapa hari setelah Trump untuk sementara mencabut sanksi terhadap bahan bakar diesel Rusia.

Keputusan tersebut menuai kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, sejumlah negara Eropa, serta beberapa anggota Partai Republik yang merupakan rekan politik Trump.

Perkembangan kebijakan sanksi AS, situasi keamanan di Timur Tengah, dan kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati pasar dalam menentukan arah harga minyak dunia selanjutnya.