Harga Minyak Dunia Terus Bergejolak! Selat Hormuz Terganggu, Pasokan Global Terancam



KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak mentah kembali bergerak liar pada perdagangan Senin (6/4), seiring kecemasan investor terhadap ketidakpastian jalur diplomatik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pasar tetap waspada terhadap potensi kehilangan pasokan yang berkelanjutan akibat gangguan pengiriman di titik nadi utama dunia.

Minyak mentah berjangka Brent terpangkas 0,22% ke level US$ 108,79 per barel pada pukul 11:49 siang waktu Amerika Serikat atau Central Daylight Time (CDT). Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan melandai 0,08% ke posisi US$ 111,45 per barel.

Baca Juga: Perang Bikin Sektor Jasa AS Tercekik, Biaya Input Melonjak Tertinggi dalam 13 Tahun


Pergerakan harga pada Senin ini terlihat kerdil jika dibandingkan lonjakan 11% untuk WTI dan 8% untuk Brent pada sesi Kamis pekan lalu —kenaikan absolut terbesar sejak 2020. Ketegangan memuncak setelah Iran menolak mentah-mentah pembukaan kembali Selat Hormuz, pasca ancaman Presiden Donald Trump yang akan mengguyur Teheran dengan "neraka" jika kesepakatan tidak tercapai hingga akhir Selasa. Meski Teheran mengklaim telah merumuskan tuntutan melalui perantara, situasi di lapangan tetap mencekam.

"Ini situasi yang sangat cair. Retorika Iran cenderung menolak gencatan senjata, meski mereka mulai mengizinkan beberapa kapal melewati Selat Hormuz," ujar John Kilduff, Partner di Again Capital.

Ancaman Trump ke Iran Makin Gila! Selat Hormuz Diblok, Dunia di Ambang Krisis Energi
© 2026 Konten oleh Kontan
Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama bagi minyak mentah dan produk minyak dari Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab, masih lumpuh akibat serangan terhadap pengiriman sejak perang pecah pada 28 Februari. Namun, data pengiriman menunjukkan kebijakan selektif Iran; kapal tanker operator Oman, kapal kontainer milik Prancis, hingga pengangkut gas Jepang diizinkan melintas sejak Kamis.

"Pasar sedang meraba apa yang akan terjadi selanjutnya. Fokus utama adalah beberapa kapal yang mulai bisa menembus selat," kata Ole Hvalbye, Analis SEB Research. Ia juga menekankan bahwa Eropa terus kehilangan barel fisik karena barang beralih ke Asia di tengah pengetatan pasar.

Baca Juga: Purbaya Siapkan Penyesuaian APBN Jika Harga Minyak Dunia Terus Naik

Perburuan Sumber Alternatif

Tersumbatnya pasokan Timur Tengah memaksa para pemurni (refinery) mencari sumber alternatif, terutama kargo fisik di AS dan Laut Utara Inggris. Premi spot untuk WTI AS pun melesat ke rekor tertinggi akibat kompetisi sengit antara kilang Asia dan Eropa. Di sisi lain, kilang-kilang di India terpaksa menunda jadwal pemeliharaan (maintenance) demi menjaga pasokan bahan bakar domestik.

Pada Minggu, aliansi OPEC+ sepakat melakukan kenaikan produksi moderat sebesar 206.000 barel per hari (bpd) untuk bulan Mei. Namun, realisasi ini diragukan. "Langkah OPEC+ tampaknya akan menantang karena terbatasnya ketersediaan ekspor," ungkap Janiv Shah, Analis Rystad.

Tonton: Selat Hormuz Mulai Dibuka! Kapal Minyak Malaysia Lolos Tanpa Bayar Toll di Tengah Konflik Iran

Agresivitas harga juga ditunjukkan raksasa Aramco. Arab Saudi menetapkan harga jual resmi (OSP) Arab Light ke Asia pada Mei dengan premi rekor US$ 19,50 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai, atau meroket US$ 17 dibandingkan bulan sebelumnya.

Di belahan bumi lain, pasokan Rusia turut terganggu akibat serangan drone Ukraina ke terminal ekspor Laut Baltik. Laporan media menyebutkan terminal Ust-Luga mulai beroperasi kembali pada Sabtu. Sementara itu, ekspor dari pelabuhan Laut Hitam, Tuapse, diproyeksikan naik menjadi 794.000 metrik ton pada April, naik 8,7% secara harian dari target Maret sebesar 755.000 metrik ton.

(LIVE REPORT) UPDATE STRATEGI INDONESIA HADAPI GEJOLAK TIMUR TENGAH
© 2026 Konten oleh Kontan