Harga Minyak Dunia Terus Naik Kamis (16/7), Brent ke US$ 85,28 & WTI ke US$ 80,02



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia naik untuk hari keempat berturut-turut pada perdagangan Kamis (16/7/2026), setelah gelombang baru serangan Amerika Serikat (AS) terhadap instalasi militer Iran memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik dan terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 33 sen atau 0,4% menjadi US$ 85,28 per barel pada pukul 00.26 GMT.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 42 sen atau 0,5% ke level US$ 80,02 per barel.


Baca Juga: Harga Emas Stabil, Eskalasi Konflik Timur Tengah Redam Optimisme Penurunan Inflasi AS

Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya juga menguat sekitar 0,3% pada Rabu (15/7) dan masih bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan yang dicapai pada Selasa (14/7).

Kenaikan harga minyak terjadi setelah AS melancarkan serangan terhadap sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran pada Rabu, menyusul keputusan Presiden Donald Trump untuk kembali memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran.

Sebagai balasan, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan Timur Tengah dan menyatakan sedang menghadapi "perang eksistensial" melawan Amerika Serikat.

"Ketika ketegangan di Timur Tengah kembali memanas, aksi beli mulai mendominasi pasar," kata Kepala Strategi Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa.

Baca Juga: Argentina Bangkit Dramatis, Scaloni: Tim Kami Bermain Baik Saat Tertekan

Menurutnya, meskipun upaya mediasi oleh negara-negara tetangga terus berlangsung dan pandangan umum masih menilai perang skala penuh kecil kemungkinannya terjadi, harga WTI tetap berpotensi naik ke kisaran US$ 85–US$ 87 per barel, bergantung pada perkembangan konflik.

Harga minyak telah menguat sepanjang pekan ini seiring meningkatnya gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang menangani sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas sejak pekan lalu, mengikis gencatan senjata yang rapuh yang sempat tercapai pada Juni setelah beberapa bulan konflik.

Sejumlah analis menilai Iran telah memberi sinyal kemungkinan memanfaatkan kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk ke Laut Merah.

Jika itu terjadi, dua jalur energi paling penting di dunia akan menghadapi risiko gangguan secara bersamaan.

Baca Juga: Bank Sentral Korea Selatan Naikkan Suku Bunga ke 2,75%, Sesuai Ekspektasi Pasar

Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dapat menembus US$ 110 per barel pada kuartal IV 2026 apabila pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk terus tertunda akibat konflik.

Namun, bank investasi tersebut juga menilai harga Brent berpotensi turun ke kisaran US$ 60-an per barel pada akhir tahun jika ketegangan geopolitik mereda dan produksi minyak pulih lebih cepat dari perkiraan.

Di sisi lain, Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 1,7 juta barel pada pekan yang berakhir 10 Juli.

Penurunan ini lebih kecil dibandingkan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 2,6 juta barel, sehingga menunjukkan pengetatan pasokan tidak sedalam yang diperkirakan pasar.