KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026) setelah investor mempertimbangkan risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal di Selat Hormuz serta upaya Amerika Serikat (AS) untuk menekan biaya pengiriman minyak melalui pelonggaran sanksi terhadap kapal tertentu. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun US$1,64 atau 1,6% menjadi US$104,42 per barel pada pukul 03.37 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 98 sen atau 1% menjadi US$94,11 per barel. Penurunan tersebut menghapus sebagian kenaikan harga pada sesi perdagangan sebelumnya.
Pada perdagangan sebelumnya, harga WTI sempat mencapai level tertinggi dalam tiga pekan. Kenaikan dipicu serangan kelompok Houthi terhadap kantor pusat Saudi Aramco serta pernyataan Iran yang mengungkapkan penggunaan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz dan mempertahankan harga minyak tetap tinggi.
Baca Juga: Houthi Ancam Serang Bandara dan Fasilitas Minyak Arab Saudi, Markas Aramco Rusak Pejabat maritim pada Rabu (14/10/2026) melaporkan bahwa sebuah kapal kontainer dan sebuah kapal pengangkut kargo curah tenggelam di sekitar Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam. Kedua kapal tersebut dilaporkan terkena proyektil dalam insiden yang terpisah. Serangan di sekitar jalur pelayaran strategis tersebut meningkat dalam 10 hari terakhir. Iran menyatakan akan meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya serta sanksi yang lebih ketat yang diberlakukan pada bulan lalu.
AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Kapal Pengangkut Minyak
Di tengah gangguan pelayaran akibat perang Iran yang mendorong biaya pengangkutan mencapai rekor tertinggi, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang dikenal sebagai shadow fleet. Kapal-kapal tersebut sebelumnya digunakan untuk mengangkut minyak dan produk petroleum dari sejumlah negara, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela. Langkah pelonggaran sanksi dipertimbangkan untuk membantu menekan biaya pengiriman dan harga minyak. Seorang pejabat AS pada Rabu mengatakan bahwa pembahasan terbaru berfokus pada kemungkinan pemerintah mengizinkan pengangkutan “minyak legal” menggunakan kapal-kapal yang sebelumnya dikenai sanksi. Sementara itu, peningkatan produksi minyak dari Rusia dan kawasan Timur Tengah turut menahan kenaikan harga di pasar global.
Baca Juga: Senat Brasil Setujui Pemangkasan Hari Kerja Jadi Lima Hari Sepekan Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) melaporkan bahwa produksi minyak mentah Rusia meningkat 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah 870.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. IEA juga mencatat ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di kawasan Teluk Timur Tengah meningkat 4,4 juta barel per hari pada September. Dengan kenaikan tersebut, volume ekspor mencapai sekitar 75% dari tingkat sebelum perang. Kepala wawasan pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai aliran minyak global masih berlangsung meskipun konflik belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian dalam waktu dekat. “Meski belum ada bukti konkret mengenai kesepakatan damai dalam waktu dekat, minyak masih terus menemukan jalannya menuju pembeli melalui rute alternatif dan pengaturan logistik,” kata Sachdeva dalam catatan kepada klien. Ia menambahkan, “Jalur alternatif ini telah membantu mencegah guncangan pasokan yang lebih parah, meskipun membutuhkan biaya lebih tinggi dan membuat arus minyak global tetap rentan terhadap gangguan lebih lanjut.”
Stok Minyak Mentah AS Turun Tajam
Dari Amerika Serikat, persediaan minyak mentah dan produk distilat tercatat turun pada pekan lalu. Sebaliknya, stok bensin meningkat, menurut sumber pasar pada Rabu yang mengutip data American Petroleum Institute (API).
Baca Juga: Dua Kapal Kargo Tenggelam di Selat Hormuz Usai Terkena Proyektil Persediaan minyak mentah AS berkurang 11,1 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober 2026. Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan para analis yang disurvei Reuters. Meskipun penurunan stok minyak mentah biasanya dapat memberikan dorongan bagi harga, respons pasar kali ini relatif terbatas.
Haitong Futures menyebut investor masih berhati-hati dalam merespons perkembangan pasar minyak, termasuk data persediaan yang menunjukkan penurunan signifikan. “Meski persediaan turun tajam, harga minyak hampir tidak bereaksi. Kegagalan harga untuk naik di tengah berita yang mendukung kenaikan menunjukkan bahwa investor berhati-hati untuk mendorong harga lebih tinggi pada level saat ini,” tulis Haitong Futures dalam catatannya pada Kamis. Data resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan dirilis pada pukul 12.00 waktu setempat atau 16.00 GMT. Rilis data tersebut tertunda satu hari karena libur Columbus Day pada Senin. Pergerakan harga minyak selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, kebijakan sanksi AS, serta data persediaan minyak mentah dan produk bahan bakar di Amerika Serikat.