KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak turun lebih dari 1% pada hari Senin (17/7), setelah pertumbuhan ekonomi China yang lebih lemah dari yang diharapkan memicu kekhawatiran atas permintaan di konsumen minyak terbesar kedua di dunia itu. Sementara dimulainya kembali sebagian produksi Libya yang dihentikan juga menekan harga. Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun 96 sen atau 1,2%, menjadi US$78,91 per barel pada 1153 GMT. Sedangkan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 90 sen atau 1,2% menjadi US$74,52 per barel.. Produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 6,3% YoY di kuartal kedua, dibandingkan dengan perkiraan analis sebesar 7,3%. Dengan pemulihan pasca-pandemi yang goyah dengan cepat karena melemahnya permintaan di dalam dan luar negeri.
"PDB datang di bawah ekspektasi, jadi tidak akan banyak meredakan kekhawatiran atas ekonomi China," kata Warren Patterson, kepala penelitian komoditas ING. Baca Juga: Ekonomi China Melemah, Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 1% "Data China selalu dinanti-nantikan dengan tingkat harapan; yah, bagaimanapun juga untuk bullish," kata John Evans, broker minyak PVM dalam sebuah laporan. Minyak naik sebentar setelah peringatan berita Reuters tentang Arab Saudi memperpanjang pengurangan produksi sukarela. Waspada itu kemudian dicabut karena mengulangi berita yang diterbitkan pada 4 Juni. Kedua tolok ukur harga minyak telah membukukan kenaikan tiga minggu dan menyentuh level tertinggi sejak April pekan lalu. Dengan mendapat dukungan dari pembatasan produksi OPEC+ dan pemadaman yang tidak direncanakan di Libya dan Nigeria.