Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$100, Tekanan Inflasi Global Mulai Mereda



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penurunan harga minyak dunia ke bawah level US$100 per barel mulai membuka ruang meredanya tekanan inflasi global, seiring menurunnya risiko geopolitik setelah tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Namun, dampak terhadap kebijakan moneter diperkirakan tidak akan terjadi secara instan karena bank sentral masih menunggu kepastian hasil negosiasi lanjutan.

Baca Juga: Sembilan Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Cek Rekomendasi Analis


Berdasarkan data Trading Economics Rabu (8/4/2026) pukul 18.37 WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) merosot 16,93% menjadi US$93,90 per barel dalam sehari, sementara minyak Brent turun 14,92% menjadi US$92,96 per barel.

Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai, penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan inflasi dari sisi energi atau cost-push inflation.

“Jika harga minyak stabil di level rendah, ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan bisa mereda. Namun, bank sentral kemungkinan tetap wait-and-see hingga masa 14 hari ini menunjukkan hasil negosiasi yang lebih permanen,” kata Wahyu.

Senada, Research and Development ICDX Girta Putra Yoga menyebut, dampak penurunan harga minyak terhadap inflasi bersifat tidak langsung.

Baca Juga: Menilik Kinerja Emiten yang Catat Net Buy Saat Dana Asing Keluar dari Pasar Saham

“Penurunan harga minyak akan menurunkan harga bahan bakar, kemudian berdampak pada biaya logistik, harga makanan, dan akhirnya ikut meredakan inflasi,” ujar Girta.

Ia menambahkan, bank sentral umumnya menjadikan inflasi sebagai indikator utama dalam menentukan arah suku bunga.

Maka dari itu, meski harga minyak berpengaruh terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga, efeknya membutuhkan waktu untuk terefleksi dalam keputusan moneter.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News