Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Kemajuan Perundingan AS-Iran



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (24/6/2026), seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap perkembangan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran serta mulai pulihnya arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun US$ 1,18 atau sekitar 1,2% menjadi US$ 76,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$ 1,18 atau 1,6% ke level US$ 72,68 per barel. Sebelumnya, WTI sempat menyentuh level terendah dalam hampir empat bulan di posisi US$ 72,48 per barel.

Penurunan harga ini melanjutkan pelemahan lebih dari 3% pada perdagangan Senin (23/6), setelah Amerika Serikat memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Iran menyusul dimulainya pembicaraan perdamaian antara kedua negara. Selain itu, pasar juga merespons laporan mengenai meredanya konflik di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz Mulai Kembali Beroperasi


Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada perkembangan situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik transit sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Baca Juga: Meta Luncurkan Kacamata Pintar AI dengan Harga Lebih Terjangkau, Mulai US$299

Pemerintah Oman dan Iran pada Selasa sepakat melanjutkan pembahasan mengenai tata kelola navigasi di Selat Hormuz, termasuk layanan maritim dan biaya operasional yang terkait dengan jalur pelayaran tersebut.

Sumber militer Iran kepada kantor berita Fars menyebutkan bahwa sejumlah kapal kini mulai diizinkan melintas setiap hari melalui koordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.

Data pelacakan kapal menunjukkan dua supertanker yang sebelumnya tertahan berhasil melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Selain itu, tujuh kapal pengangkut LNG kosong yang terkait dengan Qatar telah memasuki kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir, mengindikasikan mulai pulihnya aktivitas pengiriman gas dari kawasan Teluk.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan sebanyak 19 juta barel minyak berhasil dikirim melalui Selat Hormuz pada Senin. Dalam unggahannya di media sosial, Trump juga menyoroti tren penurunan harga minyak dunia.

Pasar Masih Waspadai Risiko Geopolitik

Meski demikian, para analis menilai dampak pelonggaran sanksi terhadap Iran belum akan terlalu besar dalam jangka pendek karena kesepakatan antara Washington dan Teheran masih berada pada tahap awal.

Analis pasar SEB Research, Ole Hvalbye, mengatakan bahwa nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran masih tergolong baru dan rentan terhadap perubahan situasi politik maupun keamanan.

Selama lebih dari tiga bulan terakhir, dunia kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas akibat terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang sempat ditutup karena konflik regional.

Baca Juga: Saham SpaceX Terus Tertekan, Kapitalisasi Pasar Susut Lebih dari US$ 600 Miliar

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai proses normalisasi lalu lintas pelayaran belum akan berlangsung sepenuhnya dalam waktu dekat.

"Pemilik dan operator kapal akan membutuhkan jaminan bahwa ancaman ranjau telah benar-benar dihilangkan. Pelabuhan yang rusak, puing-puing di perairan, dan kemacetan lalu lintas laut juga menjadi hambatan tambahan untuk meningkatkan aktivitas pelayaran secara penuh tanpa syarat," katanya.

Menurutnya, meskipun situasi mulai membaik, risiko operasional di kawasan tersebut masih cukup tinggi.

Produksi Minyak Irak Meningkat

Di sisi lain, Irak dilaporkan meningkatkan produksi minyak dari ladang-ladang minyak di wilayah selatan menjadi sekitar 2,1 juta barel per hari. Kenaikan produksi terjadi seiring bertambahnya jumlah kapal tanker yang mengantre untuk memuat minyak mentah dari terminal ekspor di kawasan Teluk.

Peningkatan pasokan dari Irak turut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kekurangan suplai global yang sempat meningkat akibat konflik di Timur Tengah.

Rabobank Pangkas Proyeksi Harga Minyak

Bank asal Belanda, Rabobank, turut merevisi turun proyeksi harga minyaknya dengan mempertimbangkan berkurangnya risiko gangguan pasokan di kawasan Teluk.

Rabobank kini memperkirakan harga minyak Brent akan berada di kisaran US$ 79 per barel pada kuartal III 2026 dan turun menjadi US$ 78 per barel pada kuartal IV 2026.

Revisi tersebut menunjukkan pandangan bahwa pasar energi global mulai bergerak menuju kondisi yang lebih stabil setelah ketegangan geopolitik yang sempat memicu lonjakan harga minyak beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Oman dan Iran Lanjutkan Pembahasan Pengelolaan Selat Hormuz

Ketegangan Timur Tengah Belum Sepenuhnya Mereda

Meski harga minyak turun, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Kelompok Hezbollah di Lebanon menuduh pasukan Israel menembaki warga sipil di wilayah Lebanon selatan pada Selasa.

Hezbollah menyatakan insiden tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati kedua pihak sebelumnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa potensi eskalasi konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga energi global dalam beberapa waktu ke depan.

Persediaan Minyak AS Diperkirakan Menyusut

Dari sisi fundamental, pasar juga mencermati data persediaan energi Amerika Serikat.

Survei awal Reuters menunjukkan stok minyak mentah, bensin, dan solar di Amerika Serikat diperkirakan mengalami penurunan pada pekan lalu.

Empat analis yang disurvei Reuters memperkirakan rata-rata persediaan minyak mentah AS turun sekitar 5 juta barel pada pekan yang berakhir 19 Juni.