Harga Minyak Dunia Turun, Gejolak Timur Tengah dan Ekspor Rusia Jadi Pemberat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kini bergerak dalam fase tarik-menarik antara sentimen kelonggaran pasokan global dan peningkatan premi risiko geopolitik.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa, (13/10/2026) hingga pukul 18.50 WIB, harga minyak mentah (WTI) berada di level 92,13 per barel, melemah 1,61 poin atau turun 1,72%, sementara minyak Brent tercatat di level 104,77 per barel, turun 1,88 poin atau melemah 1,76%.

Penurunan harga minyak mentah di bawah level US$ 93 per barel ini mengakhiri tren kenaikan beruntun selama tiga sesi terakhir, seiring dengan langkah pelaku pasar yang menimbang sentimen positif dari ekspor Rusia.


Baca Juga: 19 Saham Masuk Daftar HSC Usai Perluasan Metodologi, Ini Saham yang Terdampak

Rusia diketahui mencabut sebagian pembatasan ekspor dieselnya pada 10 Oktober lalu pasca kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS), yang secara langsung membantu meredakan kendala pasokan di pasar bahan bakar global.

Di sisi lain, Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai gejolak di kawasan Timur Tengah tetap menjadi penopang kuat bagi pergerakan harga komoditas energi ini.

"Eskalasi serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan kapal tanker meningkatkan geopolitical risk premium pada harga minyak dunia," ujar Brahmantya kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa kekhawatiran pasar saat ini tidak sekadar berpusat pada gangguan produksi, tetapi juga mencakup keamanan jalur distribusi, biaya asuransi, dan tarif pengiriman minyak.

Meski demikian, kenaikan harga minyak tidak terjadi tanpa hambatan. Pemulihan arus pasokan dari Teluk Persia serta rencana tambahan ekspor diesel Rusia menjadi penyeimbang di pasar.

"Prospek minyak hingga akhir 2026 masih cenderung bullish dengan volatilitas tinggi, tetapi ruang kenaikannya mulai menghadapi sejumlah faktor pembatas," tambah Brahmantya.

Kendati ada katalis penahan dari sisi pasokan, tensi geopolitik masih berisiko memanas.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah berjanji untuk melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia yang dinilai melanggar "gencatan senjata energi".

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat pada Rabu (14/10), Simak Saham Pilihan Analis

Selain itu, pemerintahan AS juga tengah menghadapi tekanan politik untuk segera mendukung Arab Saudi dalam melawan militan Houthi pasca serangan rudal dan drone yang menyasar bandara utama Riyadh.

Melihat dinamika yang saling bertolak belakang tersebut, investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan keamanan di Selat Hormuz dan Laut Merah, biaya pengiriman tanker, hingga persediaan minyak AS.

Dalam kondisi minyak Brent yang bertahan di atas level psikologis US$ 100 per barel, strategi buy on weakness dinilai jauh lebih terukur dibandingkan dengan mengejar kenaikan harga secara agresif.

Brahmantya memproyeksikan harga minyak hingga akhir 2026 berada pada rentang US$ 90–US$ 105 per barel untuk WTI, dan US$ 100–US$ 115 per barel untuk jenis Brent, dengan risiko koreksi mendadak jika muncul kesepakatan deeskalasi konflik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News