KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada awal perdagangan Jumat (27/3/2026) setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang berlangsung positif. Mengutip
Reuters, kontrak minyak Brent turun 90 sen atau 0,8% ke level US$ 107,11 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 83 sen atau 0,88% menjadi US$ 93,65 per barel, memangkas sebagian kenaikan pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Tanda Tangan Trump Akan Muncul di Uang Dolar AS, Akhiri Tradisi 165 Tahun Penurunan ini terjadi setelah Trump mengumumkan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari sebagai bagian dari upaya diplomasi. Ia menyebut pembicaraan dengan Teheran berjalan “sangat baik”, sehingga pasar merespons dengan meredanya kekhawatiran eskalasi konflik dalam jangka pendek. Meski demikian, pergerakan harga minyak sepanjang pekan ini tetap volatil. Pada Kamis, harga Brent sempat melonjak 5,7% dan WTI naik 4,6% akibat kekhawatiran meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Namun secara mingguan, Brent berpotensi mencatat penurunan pertama dalam enam pekan, sementara WTI melemah untuk pekan kedua berturut-turut. Di sisi lain, seorang pejabat Iran menyebut proposal perdamaian dari Amerika Serikat yang terdiri dari 15 poin masih dinilai “sepihak dan tidak adil”.
Baca Juga: Kapal Thailand Kandas di Iran Usai Diserang di Selat Hormuz, 3 Awak Hilang Proposal tersebut sebelumnya disampaikan melalui Pakistan dan telah ditinjau oleh pejabat tinggi Iran. Trump juga mengklaim Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk itikad baik dalam proses negosiasi.
Namun, situasi di kawasan tersebut masih rapuh, mengingat jalur strategis itu biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Konflik yang berlangsung hampir satu bulan ini telah mengganggu pasokan energi global secara signifikan. Badan Energi Internasional bahkan menilai krisis ini lebih parah dibandingkan dua krisis minyak pada 1970-an serta dampak perang Rusia-Ukraina terhadap gas.
Baca Juga: Mantan Ketua Dewan Ben & Jerry’s Gugat Unilever atas Tuduhan Pencemaran Nama Baik Meski ada sinyal de-eskalasi, pasar masih mencermati arah konflik ke depan. Pelaku pasar menilai bahwa jika negosiasi berhasil, stabilitas pasokan energi global dapat segera pulih. Namun, risiko gangguan tetap membayangi apabila ketegangan kembali meningkat.