KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia turun pada perdagangan Jumat (9/10/2026), setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai pembicaraan dengan Iran meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Mengutip
Reuters, Jumat (9/10/2026) pukul 02.20 GMT, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman mendatang turun 72 sen atau 0,7% menjadi US$ 103,53 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 52 sen atau 0,6% ke level US$ 90,97 per barel.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Jumat (9/10), Rupiah Menguat Tipis Meski terkoreksi pada perdagangan harian, harga Brent masih berada di jalur kenaikan mingguan setelah melonjak sekitar 4% pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak mentah yang keluar dari kawasan Timur Tengah pada awal pekan ini. Sebaliknya, harga minyak WTI diperkirakan mencatatkan penurunan tipis secara mingguan, meskipun gangguan pasokan juga terjadi akibat badai yang mendekati pesisir Teluk Meksiko di AS. Pada Kamis, Trump mengatakan Washington tengah menggelar pembicaraan produktif dengan Iran. Ia juga menegaskan AS tidak berencana menyerang Iran sebelum pemilihan sela Kongres pada 3 November mendatang, menyusul laporan media bahwa pemerintahannya mempertimbangkan serangan sebelum pemungutan suara tersebut.
Baca Juga: Pengembang China Tutup Kode Sumber ARTEX AI Usai Peretasan Bank Korea Selatan Dari Teheran, kantor berita Tasnim melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan pemerintahnya tengah meninjau tanggapan AS terhadap proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Meski terdapat perkembangan dalam pembicaraan tersebut, AS masih menekan Iran melalui kebijakan ekonomi untuk mengakhiri perang yang kini memasuki bulan kedelapan. Pada Kamis, pemerintah AS menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu, jaringan, dan 17 kapal yang dituding terlibat dalam pengangkutan minyak mentah, produk minyak, serta petrokimia Iran. Pergerakan harga minyak sepanjang pekan ini masih bergejolak di tengah meningkatnya ancaman terhadap pelayaran energi di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sebelum perang, jalur tersebut dilalui pengiriman minyak dan bahan bakar yang setara dengan sekitar 20% pasokan global.
Baca Juga: Belajar dari 2015 dan 2019, Ini Rencana F1 Singapura Hadapi Kabut Asap Selain ketegangan geopolitik, pasar minyak juga menghadapi gangguan produksi akibat Badai Isaias di Teluk Meksiko. Administrasi Mineral Laut AS melaporkan sekitar 1,3 juta barel per hari atau 62,9% dari produksi minyak saat ini di kawasan tersebut telah dihentikan sementara hingga Kamis akibat badai. Dengan demikian, pasar minyak masih menghadapi dua faktor yang saling berlawanan, yakni meredanya kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah seiring peluang perundingan AS-Iran, serta risiko gangguan produksi dan distribusi energi akibat konflik geopolitik dan cuaca ekstrem.