KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (20/10/2026), seiring pasar mencermati potensi tambahan pasokan energi dari Rusia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi terkait ekspor energi negara tersebut. Namun, risiko gangguan pasokan di Timur Tengah masih membayangi pergerakan harga minyak. Mengutip
Reuters, Selasa (20/10), harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun 49 sen atau 0,45% menjadi US$ 109,06 per barel pada pukul 00.10 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November melemah 0,33% menjadi US$ 103,32 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Tergelincir di Pagi Ini (20/10), Pasar Cermati Potensi Kelebihan Pasokan Kontrak WTI yang lebih aktif untuk pengiriman Desember juga turun 46 sen atau 0,47% ke level US$ 98,08 per barel. Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh US$ 110,70 per barel, level tertinggi sejak 20 Mei. Meski terkoreksi, harga minyak masih bertahan di atas US$ 100 per barel di tengah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Tekanan harga datang setelah Trump pada Jumat malam menerbitkan perintah eksekutif yang memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi dan tarif terkait Rusia. Kebijakan tersebut mencakup pungutan atas barang-barang Rusia serta sanksi terhadap pembelian minyak dan gas dari negara tersebut. Namun, kepastian kebijakan itu masih menjadi perhatian pasar. Trump pada Sabtu mengatakan belum mengumumkan keputusan final, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pemerintah membutuhkan waktu tambahan untuk mengevaluasi situasi. Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan, produksi minyak mentah Rusia meningkat 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Didenda Rp5,17 Juta Akibat Tinggalkan Timnas Portugal Meski naik secara bulanan, produksi tersebut masih sekitar 870.000 barel per hari di bawah level setahun sebelumnya. Analis utama KCM Trade Tim Waterer mengatakan, potensi tambahan pasokan diesel dari Rusia secara teori dapat meredakan tekanan pasokan. Namun, perhatian pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada risiko kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk. “Prospek tambahan pasokan diesel dari Rusia secara teori menawarkan sedikit kelegaan, tetapi para pedagang tampaknya jauh lebih berfokus pada risiko berlanjutnya kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk,” kata Waterer. Kekhawatiran pasokan meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran pada Senin mengklaim melancarkan sejumlah serangan terhadap sasaran energi, bandara, dan militer Arab Saudi. Sasaran yang disebutkan termasuk fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta Bandara Abha.
Baca Juga: Manchester City Terancam Degradasi, Ini Potensi Sanksi Kasus FFP Pihak berwenang Arab Saudi belum segera mengonfirmasi klaim tersebut, sementara Reuters menyatakan belum dapat memverifikasinya secara independen.
Pada hari yang sama, serangan Houthi terhadap kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah di Provinsi Shabwa, Yaman, dilaporkan menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 200 orang. Serangkaian serangan tersebut kembali menyoroti risiko keamanan regional dan potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Dari Amerika Serikat, persediaan minyak mentah diperkirakan turun pada pekan lalu, bersamaan dengan penurunan stok produk minyak, berdasarkan jajak pendapat awal Reuters pada Senin. Data persediaan tersebut menjadi salah satu faktor yang turut dicermati pelaku pasar untuk menilai keseimbangan pasokan dan permintaan minyak.