KONTAN.CO.ID - Harga minyak melemah pada awal perdagangan Asia, Kamis (19/2/2026), setelah melonjak lebih dari 4% sehari sebelumnya. Investor kini menilai perkembangan upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran di tengah peningkatan aktivitas militer di kawasan penghasil minyak utama tersebut. Melansir
Reuters, kontrak berjangka Brent turun 12 sen atau 0,2% menjadi US$70,23 per barel pada 01.10 GMT.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 8 sen atau 0,1% ke level US$65,11 per barel.
Baca Juga: Emas Melemah Usai Reli 2% Kamis (19/2), Dolar Menguat Jelang Data Inflasi AS Kedua acuan sempat ditutup melonjak lebih dari 4% pada Rabu (18/2/2026), mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 30 Januari, karena pasar mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat kekhawatiran konflik AS–Iran. “Tensi antara Washington dan Teheran masih tinggi, tetapi pandangan yang berkembang adalah konflik bersenjata skala penuh kecil kemungkinannya terjadi, sehingga pelaku pasar memilih pendekatan wait and see,” ujar Hiroyuki Kikukawa dari Nissan Securities Investment. Ia menambahkan, Presiden AS Donald Trump tidak menginginkan lonjakan tajam harga minyak mentah, dan jika aksi militer terjadi, kemungkinan hanya berupa serangan udara jangka pendek.
Baca Juga: Vietjet Raih Pembiayaan US$965 Juta untuk Beli 6 Boeing 737-8 Diplomasi dan Manuver Militer Gedung Putih menyatakan ada sedikit kemajuan dalam perundingan dengan Iran di Jenewa pekan ini, meskipun masih terdapat perbedaan pada sejumlah isu. Washington menyebut, Teheran diharapkan kembali dengan rincian tambahan dalam beberapa pekan mendatang. Di sisi lain, Iran mengeluarkan pemberitahuan kepada penerbang (NOTAM) terkait rencana peluncuran roket di wilayah selatannya pada Kamis, menurut data di situs Federal Aviation Administration. AS juga dilaporkan mengerahkan kapal perang di dekat Iran. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Washington tengah mempertimbangkan apakah akan melanjutkan jalur diplomatik atau mengambil “opsi lain”. Gambar satelit menunjukkan Iran membangun pelindung beton di fasilitas baru pada lokasi militer sensitif yang sebelumnya dilaporkan dibom Israel pada 2024.
Baca Juga: Pasar Tenaga Kerja Australia Bertambah 17.800 pada Januari, Pengangguran Tetap 4,1% Stok Minyak AS Turun Dari sisi fundamental, persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat AS dilaporkan turun pekan lalu, mengutip data American Petroleum Institute (API). Hal ini berlawanan dengan ekspektasi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan stok minyak mentah naik 2,1 juta barel hingga pekan yang berakhir 13 Februari.
Laporan resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan rilis Kamis waktu setempat. Pergerakan harga selanjutnya diperkirakan tetap sensitif terhadap dinamika geopolitik Timur Tengah serta data fundamental pasokan dan permintaan global.