KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah gonjang-ganjing di Timur Tengah, harga komoditas seperti minyak mentah dan emas dunia menunjukkan perbedaan arah. Walau begitu, harga kedua komoditas ini bisa kembali melejit secara bersamaan dalam beberapa waktu mendatang. Mengutip Trading Economics, Kamis (26/3/2025) pukul 17.25 WIB, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 3% ke level US$ 93,03 per barel. Sejalan, harga minyak Brent juga menguat 3,39% ke level US$ 105,69 per barel. Sebaliknya, harga emas dunia terkoreksi 1,93% ke level US$ 4.441,63 per ons troi di saat yang sama.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, lonjakan harga minyak tak terhindarkan seiring memanasnya konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi utama energi global. Akibatnya, pasokan minyak terganggu dan harga komoditas ini melesat sekaligus menimbulkan ketidakpastian global.
Baca Juga: Temukan Cadangan Minyak Baru, Prospek Kinerja Energi Mega (ENRG) 2026 Kian Menarik Ketika harga minyak melambung, risiko kenaikan harga barang dan jasa juga meningkat. Hal ini tentu bisa memicu kenaikan inflasi yang membuat bank-bank sentral, termasuk The Fed, berpotensi menahan tingkat suku bunga acuan. Dari situ, banyak investor mencari aset safe haven seperti dolar AS, sehingga indeks dolar AS meningkat. “Investor aktif melakukan
profit taking terhadap emas dan beralih ke aset
safe haven lainnya yaitu dolar AS, sehingga harga komoditas ini menurun,” kata Ibrahim, Kamis (26/3/2026). Walau begitu, besar kemungkinan harga minyak dan emas kembali menguat secara bersamaan. Ini mengingat, belum ada tanda-tanda perang di Timur Tengah akan benar-benar berakhir, meski beberapa kali Presiden Donald Trump mengklaim kemenangan dan membuka ruang negosiasi. Bahkan, isu mengenai rencana invasi darat oleh AS ke Iran makin mencuat dan berpotensi benar-benar dilakukan akhir Maret atau awal April nanti. Jika itu terjadi, maka harga minyak dan emas dunia akan melesat seiring kekhawatiran terhadap ketidakpastian konflik geopolitik dan risiko resesi global yang makin terlihat di depan mata. “Perang lewat jalur darat ini dianggap menjadi penentu arah pasar, dibandingkan sekadar perang teknologi atau retorika yang selama ini terjadi,” ungkap Ibrahim.
Baca Juga: Mayora (MYOR) Catat Kenaikan Penjualan pada 2025, Bagaimana Prospek Tahun Ini? Jika eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah berlanjut, Ibrahim memperkirakan harga minyak dunia bisa menembus kisaran level US$ 130 per barel pada akhir semester I-2026. Harga emas dunia juga berpeluang melesat ke level tinggi atau sekitar US$ 5.800—US$ 5.900 per ons troi. Begitu pula indeks dolar AS yang diprediksi bisa mencapai level 102,50.
Ibrahim melanjutkan, bagi investor konservatif, menjadikan emas sebagai aset lindung nilai tetap merupakan pilihan yang bijak di tengah ketidakpastian global seperti sekarang. Ketika harga emas dalam fase koreksi akhir-akhir ini, investor bisa melakukan pembelian jika memang memiliki dana segar atau uang dingin. Jika belum punya dana, investor bisa
wait and see terlebih dahulu sembari menunggu perkembangan konflik geopolitik lebih lanjut. “Masyarakat pada dasarnya cenderung tetap membeli emas karena secara jangka panjang harganya selalu naik,” tandas dia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News