Harga Minyak, Gas, dan Batubara Kompak Melemah, Apa Penyebabnya?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga sejumlah komoditas energi kompak mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Mulai dari minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), Brent, gas alam, hingga batubara sama-sama terkoreksi.

Melansir Trading Economics pada Kamis pukul 16.20 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 9% dalam sepekan ke kisaran US$ 83,5 per barel, Brent melemah 9,9% tujuh hari terakhir ke level US$ 90,6 per barel.

Sementara harga gas alam bertengger di harga US$ 2,7 per MMBtu atau terkoreksi sekitar 6,4% dalam sepekan, begitu halnya batubara juga terkoreksi tipis 0,5% dalam seminggu terakhir jadi US$ 130,2 per ton. 


Baca Juga: Customer Traffic Pulih, MAPI dan MAPA Kompak Bukukan Pertumbuhan Pendapatan dan Laba

Kendati demikian, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan tersebut belum mencerminkan perubahan tren menjadi bearish. Menurutnya, secara umum harga komoditas energi masih berada di level yang relatif tinggi.

“Walau turun, harga energi masih sangat tinggi, kecuali gas alam yang memang permintaan rendah pada musim panas di belahan utara bumi,” ungkap Lukman kepada Kontan, Kamis (30/7/2026).

Lukman menjelaskan, harga minyak mentah WTI sempat terkoreksi setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan aksi saling serang. Namun, harga kembali menguat seiring meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah pada hari Rabu.

Sementara itu, harga batubara dinilai masih cukup kuat meski sulit menembus level resistance di US$ 150 per ton. Menurut Lukman, harga di kisaran US$ 130 per ton masih tergolong tinggi sehingga mencerminkan fundamental yang tetap solid.

Dari sisi domestik, dampak pelemahan harga komoditas energi terhadap sektor energi Indonesia diperkirakan akan berbeda-beda.

Lukman mengatakan, penurunan harga minyak berpotensi menekan pendapatan dan margin perusahaan migas hulu. Namun, bagi Indonesia yang merupakan net importir minyak, kondisi tersebut justru memberikan keuntungan karena dapat menurunkan biaya impor bahan bakar minyak (BBM), membantu meredam inflasi, serta mengurangi beban subsidi energi.

“Sementara itu, harga batubara di sekitar US$ 130 per ton masih relatif tinggi, sehingga dampaknya terhadap emiten batubara cenderung terbatas dan profitabilitas masih cukup terjaga,” jelas Lukman.

Untuk prospek hingga akhir 2026, Lukman memperkirakan harga minyak mentah dunia masih akan bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Laba MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) Melonjak 30%, Pendapatan Tembus Rp 10,12 Triliun

Ia memproyeksikan harga WTI berada di kisaran US$ 80 hingga US$ 95 per barel hingga akhir tahun. Sementara itu, harga batubara diperkirakan bergerak di rentang US$ 115 hingga US$ 130 per ton, sedangkan gas alam diproyeksikan berada pada kisaran US$ 3,3 hingga US$ 4.

Dari sisi strategi investasi, untuk minyak mentah, investor dapat menerapkan strategi buy on dip ketika harga berada di area support US$ 70-US$ 75 per barel. Adapun batubara dinilai memiliki area support yang kuat pada kisaran US$ 115-US$ 130 per ton.

Sementara itu, gas alam dinilai masih kurang menarik dalam jangka pendek karena permintaannya dipengaruhi faktor musiman. Kenaikan harga baru berpotensi terjadi menjelang musim dingin di belahan bumi utara, tetapi investor yang memiliki profil risiko agresif dapat mempertimbangkan akumulasi bertahap saat harga berada di kisaran US$ 2,3 hingga US$ 2,6.

"Kalau melihat potensi return, tentunya gas alam. Namun, volatilitasnya akan sangat tinggi," pungkas Lukman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News