KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Imbal hasil obligasi global melonjak ke level tertinggi baru dan pasar saham merosot pada Jumat (11/9/2026), karena lonjakan harga minyak memicu risiko inflasi, mendorong investor untuk segera memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh bank sentral di seluruh dunia. Harga minyak mentah Brent naik ke level tertinggi dalam empat bulan di level US$ 109,97 per barel pada Jumat (11/9/2026), setelah melonjak 6% dalam semalam. Harga minyak Brent mencatatkan kenaikan mingguan hampir 13%. Arus minyak tetap terhambat di Selat Hormuz akibat aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sementara kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut kendali pelabuhan Mocha di Yaman, yang mengancam ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah.
"Lalu lintas maritim melalui Selat Bab el-Mandeb sangat terancam oleh pergerakan maju kelompok Houthi," ujar Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets seperti dilansir
Reuters.
Baca Juga: Dolar Australia Tertekan Jumat (11/9), Yield Obligasi Tembus Level Tertinggi 15 Tahun Ia memprediksi harga minyak Brent bisa mencapai US$ 121,99 per barel pada akhir tahun ini akibat kembali memanasnya konflik berskala penuh antara Arab Saudi dan Houthi. Situasi ini menjadi peringatan keras bagi pasar yang akhirnya mulai memperhitungkan risiko perang berkepanjangan. Komentar Presiden Donald Trump bahwa konflik tersebut bisa berlangsung melampaui pemilihan umum sela bulan November turut memperparah sentimen negatif. Pernyataan ini memicu lonjakan imbal hasil obligasi secara global di tengah kekhawatiran inflasi yang meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun—yang menjadi acuan—naik 2 basis poin pada hari Jumat menjadi 4,9708%, level tertinggi dalam tiga tahun dan nyaris menyentuh angka 5%. Sehingga meningkatkan biaya keuangan untuk utang pemerintah AS yang mencapai US$ 40 triliun. Imbal hasil US Trasury tenor 30 tahun juga mencetak rekor tertinggi dalam 19 tahun di angka 5,3803%, yang mendorong kenaikan suku bunga hipotek AS dan menghambat pasar perumahan. Imbal hasil US Trasury tenor dua tahun naik 2 basis poin lagi menjadi 4,5835% setelah melonjak 12 basis poin dalam perdagangan semalam, seiring meningkatnya spekulasi pasar bahwa Federal Reserve AS harus menaikkan suku bunga bulan ini untuk meredam inflasi—sebuah langkah yang kini diperkirakan memiliki probabilitas sekitar 70%. Aksi jual besar-besaran di pasar obligasi AS sebagian disebabkan oleh program pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah yang nilainya tidak mencapai target yang diharapkan sebesar US$6 miliar. Pasar obligasi Asia turut terimbas aksi jual global; imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak 18 basis poin ke level tertinggi dalam 15 tahun di angka 5,047%. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 6 basis poin menjadi 2,97% setelah data menunjukkan inflasi tingkat grosir Jepang tetap tinggi, yang memperkuat argumen bagi Bank of Japan untuk segera menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Rupiah dan Ringgit Tertekan Jumat (11/9), Dolar AS Kembali Menguat Kenaikan Suku Bunga Akan Terjadi
Analis JPMorgan kini memperkirakan delapan dari sembilan bank sentral di negara maju akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, termasuk The Fed, BOJ, keempat bank sentral di Eropa, serta bank sentral Australia dan Selandia Baru. "Pengetatan kebijakan saat ini diperkirakan akan berlangsung moderat, namun risiko terhadap prakiraan kami cenderung mengarah pada tindakan lebih lanjut mengingat pertumbuhan ekonomi yang tangguh, inflasi inti yang sulit turun (sticky), serta tekanan harga komoditas," ungkap mereka dalam sebuah catatan. Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini dalam perdagangan semalam, dan sejumlah pejabat memperkirakan adanya pengetatan lebih lanjut di masa mendatang, termasuk kemungkinan langkah lanjutan pada bulan Oktober. Lonjakan harga minyak telah meningkatkan signifikansi data harga konsumen AS untuk bulan Agustus yang akan dirilis hari ini; data tersebut dapat menjadi penentu krusial bagi keputusan The Fed mengenai kenaikan suku bunga pekan depan.
Baca Juga: Yield Treasury AS Mendekati 5%, Saham Asia Berguguran Perkiraan pasar berpusat pada kenaikan bulanan sebesar 0,2% dalam ukuran inti IHK (CPI), meskipun terdapat risiko angka yang lebih tinggi mengingat data PPI semalam menunjukkan adanya kekakuan (penurunan yang lambat). Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi menaikkan tingkat diskonto yang digunakan untuk valuasi perusahaan, sehingga menyebabkan saham-saham Asia mengalami kerugian besar. Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,8%, sementara indeks Nikkei Jepang anjlok 2,8%. Saham-saham unggulan Tiongkok turun 1,2% dan indeks Hang Seng Hong Kong merosot 1,5%.