Harga Minyak Iran Masuk Zona Diskon di Tengah Lesunya Permintaan China



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah Iran dan Rusia di pasar China mulai melemah seiring lesunya permintaan dari kilang-kilang independen di negara tersebut. Kondisi ini mendorong para pedagang memangkas harga guna menarik minat pembeli di tengah perlambatan aktivitas pengolahan minyak.

Menurut sumber perdagangan, harga minyak Iran bahkan kembali diperdagangkan dengan diskon untuk pertama kalinya sejak April 2026. Sementara itu, premi minyak mentah Rusia juga mengalami penurunan karena pembeli di China masih berhati-hati melakukan pengadaan meskipun pasokan relatif terbatas.

Penurunan harga minyak Iran dan Rusia di negara pengimpor minyak terbesar dunia tersebut diperkirakan akan menekan pendapatan ekspor kedua negara. Bagi Iran, situasi ini semakin berat karena negara tersebut masih menghadapi blokade Amerika Serikat yang telah memangkas ekspor minyaknya secara signifikan.


Tiga pedagang menyebutkan, kargo minyak mentah Iranian Light untuk pengiriman bulan ini ke Provinsi Shandong, China timur, ditawarkan dengan diskon sekitar US$ 0,50 hingga US$ 1 per barel terhadap kontrak ICE Brent. Angka tersebut berbalik dari kondisi dua bulan sebelumnya yang masih mencatat premi sebesar US$ 1 hingga US$ 2 per barel.

Baca Juga: Bursa Saham Eropa Bergerak Datar, Investor Cermati Konflik Timur Tengah

Shandong merupakan pusat aktivitas kilang independen atau yang dikenal sebagai teapot refiners, yang selama ini menjadi konsumen utama minyak dari negara-negara yang terkena sanksi.

Sementara itu, harga minyak mentah ESPO asal Rusia, yang juga populer di kalangan kilang independen China, turun menjadi premi sekitar US$ 3 hingga US$ 4 per barel terhadap ICE Brent untuk pengiriman Juni. Pada bulan sebelumnya, premi minyak tersebut masih berada di kisaran US$ 4 hingga US$ 5 per barel.

Analis Senior Minyak Mentah Kpler, Xu Muyu, mengatakan minat pembelian dari kilang independen masih lemah meskipun pasokan tidak berlimpah.

"Pembeli tidak mempercepat pengadaan meskipun pasokan terbatas, karena harga masih terlalu tinggi bagi kilang independen yang saat ini mengalami kerugian besar," ujar Xu Muyu.

Ia menambahkan, "Selain itu, kilang independen juga menurunkan tingkat operasionalnya, sehingga permintaan turut mengalami penurunan."

Menghadapi tekanan kerugian akibat tingginya biaya minyak mentah dan lemahnya permintaan bahan bakar, sejumlah kilang independen China memangkas tingkat pengolahan pada Mei 2026.

Data Kpler menunjukkan impor minyak mentah Iran ke China pada Mei turun menjadi 1,10 juta barel per hari (bph), level terendah sejak Januari 2025. Sementara itu, impor minyak Rusia tercatat sebesar 1,04 juta bph, yang merupakan titik terendah sejak Agustus tahun lalu.

Baca Juga: El Nino Ancam Produksi Pangan Asia, Harga Beras dan Gandum Berpotensi Naik

Ekspor Minyak Iran Anjlok ke Titik Terendah Enam Tahun

Melemahnya harga minyak Iran terjadi meskipun ekspor dan persediaan minyak negara tersebut di luar negeri terus menyusut.

Berdasarkan data Kpler, ekspor minyak mentah Iran pada Mei 2026 hanya mencapai sekitar 260.000 barel per hari. Angka tersebut merupakan level terendah dalam enam tahun terakhir dan kurang dari seperlima rata-rata ekspor sepanjang 2025 yang mencapai 1,67 juta barel per hari.

Sementara itu, data OilX menunjukkan ekspor minyak mentah Iran pada Mei hanya sebesar 118.300 barel per hari, jauh di bawah rata-rata 2025 yang mencapai 1,88 juta barel per hari.

Xu Muyu juga mengungkapkan bahwa volume minyak Iran yang masih berada di laut di luar zona blokade telah menyusut signifikan. Persediaan tersebut kini hanya sekitar 79 juta barel, turun dari sekitar 130 juta barel pada pertengahan April 2026 saat blokade Amerika Serikat mulai diberlakukan.