Harga Minyak Jatuh di Pagi Ini (23/9): WTI Sempat Anjlok 1% ke Bawah US$ 90 Per Barel



KONTAN.CO.ID - PERTH. Harga minyak kembali melemah pada hari ini karena Arab Saudi mulai memulihkan pasokan minyak mentah di jalur pipa penting ke Laut Merah dan harapan akan solusi diplomatik terhadap perang AS-Iran melalui pembicaraan di PBB di New York.

Rabu (23/9/2026) pukul 08.30 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 turun 7 sen atau 0,07% menjadi US$ 99,18 per barel.

Sementara, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 turun 35 sen atau 0,39% ke US$ 90,17 per barel. Bahkan WTI sempat melemah 1% ke level US$ 89,6 per barel


Meskipun Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa (22/9/2026) memperingatkan bahwa ia dapat “memusnahkan” Iran, ia juga mengatakan utusannya Steve Witkoff dan Jared Kushner telah mengadakan pembicaraan produktif dengan mediator Iran untuk mengakhiri perang.

Baca Juga: Sekjen PBB: Solusi Dua Negara Palestina-Israel Tak Punya Alternatif

“Saya pikir ada banyak momentum bagi mereka untuk membuat kesepakatan,” kata Trump.

Optimisme seputar peningkatan pasokan dan dorongan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama hampir tujuh bulan mendorong harga minyak acuan Brent turun hingga ditutup di bawah US$ 100 per barel pada hari Selasa untuk pertama kalinya sejak 8 September.

“Pasar saat ini merasa lebih konstruktif mengenai gambaran pasokan minyak global dibandingkan beberapa minggu lalu,” kata Tim Waterer, kepala analis di KCM Trade.

“Pertemuan delegasi AS dan Iran di New York telah memberikan secercah harapan bagi para pedagang... Meskipun retorika keras terus berlanjut, termasuk ancaman pemusnahan, pasar memilih untuk mempertimbangkan kemungkinan perundingan,” tambah Waterer.

Pada hari Selasa (22/9/2026), Arab Saudi memulai kembali operasi Jalur Pipa East-West ke Laut Merah, kata tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut, dengan tanda-tanda peningkatan aliran minyak di Timur Tengah.

Serangan drone, yang menurut Arab Saudi dilakukan oleh milisi Irak, memaksa kerajaan tersebut menutup jalur pipa pada 11 September, sehingga menghentikan pemuatan minyak mentah di pelabuhan Yanbu milik kerajaan tersebut.

Sejak perang AS-Israel melawan Iran mengganggu aliran minyak dari Arab Saudi dan negara-negara tetangganya di Teluk melalui Selat Hormuz, Riyadh telah menggunakan pipa tersebut untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel per hari, sekitar 4% dari pasokan global, ke Yanbu.

Baca Juga: Pidato di PBB, Trump Sebut Kuba Negara Gagal

Irak juga meningkatkan ekspor minyaknya, kata Menteri Perminyakan Irak, Basim Mohammed, pada hari Selasa. Negara ini mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari, katanya, dan berharap dapat meningkatkan ekspor melalui Turki hingga lebih dari 600.000 barel per hari.

Data sementara dari perusahaan pelacakan kapal Vortexa dan Kpler mematok ekspor minyak mentah Irak pada bulan Agustus masing-masing sebesar 2,3 juta dan 2,17 juta barel per hari, naik dari tingkat bulan Juli tetapi di bawah tingkat sebelum perang di bulan Februari sebesar 3,7 juta dan 3,362 juta barel per hari.

Menambah tekanan pada harga minyak, data industri menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 1,8 juta barel dalam sepekan hingga 18 September, sementara analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penurunan.

Angka inventaris mingguan resmi dari Administrasi Informasi Energi AS akan dirilis pada pukul 10:30 ET (1430 GMT).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News