KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali turun ke level sebelum pecahnya konflik Iran, setelah pasar melihat pasokan dari Timur Tengah mulai pulih dan kekhawatiran gangguan distribusi mereda. Pada perdagangan Kamis (25/6/2026), kontrak Brent untuk pengiriman Agustus turun 0,7% menjadi US$ 73,23 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,8% ke US$ 69,81 per barel. Kedua kontrak tersebut menyentuh level terendah sejak 27 Februari.
Penurunan harga terjadi seiring meningkatnya aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi ekspor minyak global. Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyebut volume minyak yang melintasi selat tersebut hampir kembali ke kondisi sebelum konflik, dengan lebih dari 20 juta barel minyak keluar dalam 24 jam terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 3% Imbas Konflik Iran, Pasokan Timur Tengah Terganggu Meski demikian, proses normalisasi penuh masih membutuhkan waktu beberapa pekan karena upaya pembersihan ranjau di wilayah tersebut masih berlangsung. Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan peningkatan arus minyak saat ini terutama berasal dari kapal-kapal yang keluar dari Teluk. Namun, pemulihan arus kapal yang masuk masih bergantung pada pulihnya kepercayaan pelaku pelayaran, termasuk jaminan keamanan dan normalisasi premi asuransi. Melimpahnya pasokan dari Timur Tengah, ditambah ekspektasi peningkatan ekspor Iran setelah mendapat kelonggaran sementara dari sanksi AS, turut menekan harga minyak fisik di berbagai pasar dunia. Meski demikian, Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak Iran tidak akan meningkat signifikan, bahkan jika relaksasi sanksi diperpanjang setelah batas waktu 21 Agustus. Bank investasi tersebut juga menilai China akan tetap menjadi pembeli utama minyak Iran karena sanksi Uni Eropa dan Inggris terhadap minyak serta kapal Iran masih berlaku. Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pekan lalu antara Iran dan Israel turut membantu memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Kesepakatan itu juga membuka periode negosiasi selama 60 hari untuk membahas isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak! Konflik Iran Ancam Ekonomi Global Di tengah meredanya premi risiko geopolitik, UBS memangkas proyeksi harga Brent. Bank tersebut kini memperkirakan Brent berada di level US$ 85 per barel pada akhir September dan Desember 2026, serta US$ 80 per barel pada akhir Maret dan Juni 2027. Sementara itu, dinamika pasokan global juga dibayangi ketidakpuasan Irak terhadap kuota produksi yang ditetapkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sejumlah sumber Reuters menyebut Irak tengah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan keluar dari OPEC, jika kuota produksinya tidak dinaikkan secara signifikan.
"Jika kuota OPEC tidak dinaikkan secara berarti, Irak akan mempertimbangkan seluruh opsi yang tersedia," ujar sumber yang mengetahui kebijakan minyak Irak.
Baca Juga: Goldman Sachs dan JP Morgan Kompak Kerek Proyeksi Harga Minyak, Disokong Konflik Iran Di sisi lain, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya hilang. Militer Ukraina dilaporkan menyerang sebuah depot minyak di wilayah Krasnodar dan dua kilang minyak di wilayah Ufa, Rusia, yang berjarak sekitar 1.500 kilometer dari garis depan perang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News