KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menguat pada Jumat (10/4), didorong oleh kekhawatiran baru terhadap pasokan dari Arab Saudi serta masih tersendatnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 96 sen atau 1% menjadi US$ 96,88 per barel pada pukul 06.04 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 78 sen atau 0,80% ke level US$ 98,65 per barel. Meski menguat secara harian, kedua kontrak minyak tersebut masih mencatat penurunan sekitar 11% sepanjang pekan ini. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak Juni 2025, saat serangan militer AS-Israel terhadap Iran sebelumnya dihentikan.
Gangguan Pasokan dari Arab Saudi
Kenaikan harga minyak dipicu oleh laporan adanya serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi yang memangkas kapasitas produksi minyak negara tersebut sekitar 600.000 barel per hari. Selain itu, aliran melalui pipa East-West Pipeline juga turun sekitar 700.000 barel per hari.
Baca Juga: Republik Gagalkan Upaya Demokrat Hentikan Perang Iran, Isu Pemakzulan Trump Menguat Analis ANZ menyebutkan bahwa laporan ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan minyak global yang lebih luas.
Lalu Lintas Selat Hormuz Masih Terhambat
Di sisi lain, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah normal, bahkan kurang dari 10% dari volume biasanya, meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Pakistan. Teheran tetap menunjukkan kontrolnya atas jalur strategis tersebut dengan memperingatkan kapal-kapal untuk tetap berada di perairan teritorial Iran saat melintas. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting bagi sekitar 20% aliran minyak dan gas dunia, sehingga gangguan di wilayah ini berpotensi memicu gejolak besar di pasar energi global.
Prospek Harga dan Risiko Ke Depan
Para analis memperingatkan bahwa jika arus minyak melalui Selat Hormuz tidak segera pulih, harga minyak berpotensi melonjak tajam. Presiden konsultan energi Stratas Advisors, John Paisie, memperkirakan harga minyak Brent bisa mencapai US$ 190 per barel jika kondisi saat ini berlanjut.
Baca Juga: Taiwan Waspadai Lonjakan Aktivitas Militer China di Tengah Retorika Damai Sementara itu, CEO XAnalysts Mukesh Sahdev menilai bahwa faktor kunci saat ini bukan lagi apakah Selat Hormuz akan dibuka kembali, melainkan seberapa cepat aliran minyak dapat kembali normal.
Dampak Konflik terhadap Infrastruktur Energi
Konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari ini telah menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur energi di kawasan Teluk. Menurut JPMorgan, sekitar 50 aset infrastruktur terdampak serangan drone dan rudal, dengan kapasitas pengolahan minyak sekitar 2,4 juta barel per hari terhenti. Di tengah situasi ini, pelaku pasar terus memantau perkembangan geopolitik dan upaya diplomasi, termasuk sinyal dari Israel yang menyatakan kesiapan untuk membuka pembicaraan langsung dengan Lebanon. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pergerakan harga minyak ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas pasokan dan keamanan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.