Harga Minyak Kian Memanas, Begini Dampaknya ke Harga Emas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (16/9/2026), meski masih mencatat penurunan dalam sepekan dan sebulan terakhir. Pergerakan emas turut dibayangi kenaikan harga minyak yang masih bertahan di atas US$ 100 per barel.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.38 WIB, harga emas di pasar spot berada di level US$ 4.328,66 per ons troi, naik 0,97% dari hari sebelumnya, tetapi masih melemah 1,59% dalam sepekan.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level tertinggi sepanjang masa pada 15 September 2026. Meski kemudian pada Rabu (16/9/2026), harga minyak WTI turun 1,03% di level US$ 104,39 per barel. 


Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.696 Per Dolar AS Hari Ini (16/9), Asia Perkasa

Research & Development ICDX, Tiffani Safinia mengatakan, kenaikan harga minyak perlu dicermati karena dapat kembali memengaruhi tekanan inflasi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

"Kalau harga minyak berada di atas US$ 100 per barel, ini berpotensi menjaga yield Treasury dan dolar tetap tinggi, sehingga menekan emas," ujar Tiffani kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).

Tingginya yield obligasi pemerintah AS dan dolar menjadi tantangan bagi emas karena dapat mengurangi daya tarik aset tersebut. Namun, tekanan dari minyak tidak selalu berujung negatif bagi emas.

Pasalnya, apabila kenaikan harga minyak berkaitan dengan gangguan pasokan atau eskalasi geopolitik, investor justru dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.

"Di sisi lain, gangguan pasokan dan risiko geopolitik tetap memberikan dukungan melalui permintaan safe haven," kata Tiffani.

Dengan sejumlah sentimen tersebut, pergerakan emas dalam jangka pendek masih berpeluang naik-turun cukup tajam. Ruang penguatan juga dapat terbatas apabila The Fed masih mempertahankan kebijakan suku bunga ketat.

"Dalam jangka pendek, emas masih berpotensi bergerak volatil dan menghadapi tekanan jika The Fed mempertahankan kebijakan ketat," ujarnya.

Sementara itu, memasuki sisa tahun 2026, Tiffani menyebut arah suku bunga dan yield AS masih menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan. Pergerakan dolar, harga minyak, pembelian emas oleh bank sentral dan ETF, serta perkembangan geopolitik juga akan ikut menentukan arah harga emas.

Baca Juga: Segini Cuan Morgan Stanley Jual Saham GOTO di Bawah Harga Pasar

Menurut dia, peluang pemulihan emas akan kembali terbuka apabila tekanan inflasi mulai mereda dan pasar kembali melihat peluang pelonggaran kebijakan The Fed.

Untuk akhir 2026, Tiffani memperkirakan harga emas masih berada pada kisaran US$ 4.500-US$ 4.750 per ons troi. Namun, kisaran tersebut tetap bergantung pada perkembangan suku bunga, inflasi, harga minyak dan kondisi geopolitik dalam beberapa bulan ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News