Harga minyak konsisten melandai



JAKARTA. Minyak diperdagangkan mendekati level terendah dalam enam tahun. Peringatan OPEC bahwa harga minyakbisa melonjak tanpa investasi baru di bidang produksi gagal menggeser fokus pelaku pasar atas melimpahnya pasokan global.

Mengutip Bloomberg, Selasa (27/1) pukul 15.00, kontrak pengiriman minyak West Texas Intermediate (WTI) bulan Maret 2015 berada di level US$ 44,93 per barel. Harga turun0,48% dibanding hari sebelumnya. Ini merupakan level terendah enam tahun. Sementara dalam sepekan terakhir, harga minyak merosot 5,9%.

Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla El-Badri menuturkan, harga minyak mungkin melonjak hingga US$ 200 per barel tanpa menunggu waktu sangat panjang. Menurutnya, pasar akan kembali dalam keseimbangan dengan pengurangan pasokan, dibanding peningkatan permintaan.


Namun, agaknya dugaan ini tidak direspons pelaku pasar mengingat surplus produksi minyak OPEC per hari mencapai 1,5 juta barel. Selain itu, persediaan minyak mentah AS pekan lalu yang akan di rilis Energy Information Administration (EIA) pada Rabu (28/1) diperkirakan naik 4,25 juta barel menjadi 402.100.000 barel. Survey Bloomberg News menunjukkan, angka ini merupakan yang terbesar sejak Agustus 1982.

Minyak merosot hampir 50% pada tahun lalu di tengah laju tercepat produksi minyak mentah AS dalam lebih dari tigadekade. Di sisi lain, OPEC menolak untuk mengurangi produksi. Kondisi ini mendorong Presiden Goldman SachsGroup Inc, Gary Cohn menduga harga minyak bisa turun ke level US$ 30 per barel.

“Pasokan masih menjadi masalah. Potensinya masih downside dalam waktu dekat. Karena itu perlu adanya penurunanproduksi. Permintaan tidak membaik dengan cepat saat harga jatuh,” ujar David Lennox, analis sumber daya Fat Prophetsdi Sydney, mengatakan melalui telepon kepada Bloomberg.

Faisyal, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, harga minyak belum mampu keluar dari zona negatif. Selama produksi shale gas AS masih tinggi, maka mustahil harga akan bergerak naik. Di sisi lain, Iran yang merupakan salah satu anggota OPEC membuka peluang harga minyak jatuh hingga US$ 25 per barel. Kondisi ini kian menenggelamkan harga energi tersebut.

“Biaya produksi minyak Arab Saudi sebesar US$ 20 per barel. Maka selama harga minyak di level saat ini maka harga masih dianggap wajar,” ungkap Faisyal.

Di sisi lain, kokohnya indeks dollar juga menjadi penghalang bagi harga minyak. Selasa (27/1) pukul 15.00, indeks dollar berada di level 94,85. Semakin kuat indeks dollar maka akan menekan harga minyak. Sebab, harga minyak yang berdenominasi dollar AS dinilai terlalu mahal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia