Harga minyak koreksi tipis setelah melonjak 3%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak terkoreksi pada Selasa (7/11) pagi setelah mencetak rekor tertinggi. Pada Selasa pukul 7.08 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2017 di New York Mercantile Exchange terkoreksi 0,23% ke level US$ 57,22 per barel.

Koreksi ini terjadi setelah kemarin harga minyak mencetak rekor tertinggi pada US$ 57,35 per barel. Kemarin, harga minyak melonjak 3,07% ketimbang posisi akhir pekan lalu dan mencapai level tertinggi sejak 9 Januari 2017.

Harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2018 di ICE Futures bahkan melonjak hingga US$ 64,27 per barel pada penutupan perdagangan kemarin. Harga ini naik 3,54% ketimbang posisi akhir pekan. Ini adalah level tertinggi harga minyak brent sejak 1 September 2015 atau lebih dari dua tahun terakhir.


Analis menilai, sederetan penangkapan pangeran Arab tidak akan mengubah kebijakan Arab Saudi soal harga minyak. Putera Mahkota, Muhammad bin Salman berniat mereformasi sejumlah perusahaan minyak milik negara, termasuk Saudi Aramco tahun depan. "Kami yakin Arab Saudi akan menjalankan kesepakatan OPEC+ dan melanjutkan fokus untuk mengurangi stok minyak globa," kata Giovanni Staunovo, Analis UBS kepada CNBC.

Menteri Energi Arab, Khalid al-Falih mengatakan, sejauh ini pemangkasan produksi OPEC sudah memuaskan. Tapi, langkah pemangkasan ini belum rampung. 

OPEC diprediksikan akan memperpanjang pemangkasan hingga akhir tahun 2018. "Ketidakpastian soal stabilitas rezim Arab sedikit naik, jadi premi risiko yang lebih tinggi bisa dimengerti," kata Samuel Ciszuk, senior adviser Swedish Energy Agency.

Dari Amerika Serikat (AS), operasional rig minyak berkurang delapan rig menjadi 729. Ini adalah penurunan terbesar sejak Mei 2016.

Barclays bahkan sudah menaikkan prediksi harga minyak brent rata-rata menjadi US$ 60 per barel pada kuartal empat tahun ini dan US$ 55 per barel untuk tahun depan. Sebelum revisi, Barclays meramal harga minyak brent pada US$ 54 per barel untuk kuartal empat dan US$ 52 per barel tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati