KONTAN.CO.ID - Harga minyak melanjutkan penguatan pada Rabu (4/2/2026) setelah militer Amerika Serikat (AS) menembak jatuh sebuah drone Iran dan kapal-kapal bersenjata Iran mendekati kapal berbendera AS di Selat Hormuz. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Melansir
Reuters, harga minyak mentah Brent naik 15 sen atau 0,2% menjadi US$67,48 per barel pada pukul 07.30 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 28 sen atau 0,4% ke US$63,49 per barel.
Baca Juga: Penghentian Ekspor Batubara RI Berisiko Guncang Sistem Kelistrikan Asia Kedua patokan harga tersebut telah melonjak hampir 2% pada Selasa (3/2/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik di kawasan dapat mengganggu arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz atau produksi minyak Iran. “Ketidakpastian mengenai bagaimana perundingan ini akan berkembang membuat pasar kemungkinan terus memasukkan premi risiko tertentu,” kata para ahli strategi komoditas ING dalam catatan risetnya. Militer AS pada Selasa menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut “berperilaku agresif” saat mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab, menurut pernyataan militer AS dalam insiden yang pertama kali dilaporkan Reuters. Secara terpisah, sumber maritim dan sebuah konsultan keamanan menyebutkan bahwa sekelompok kapal cepat bersenjata Iran juga mendekati sebuah kapal tanker berbendera AS di Selat Hormuz, wilayah perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sejumlah anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui Selat Hormuz, terutama ke pasar Asia.
Baca Juga: Harga Emas Bangkit ke Dekat US$5.100 Rabu (4/2) Siang, Ketegangan AS–Iran Memanas Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga OPEC pada 2025. Di sisi diplomatik, Teheran menuntut agar perundingan dengan AS pekan ini digelar di Oman, bukan Turki, serta membatasi agenda hanya pada pembahasan isu nuklir secara bilateral. Kondisi ini menimbulkan keraguan apakah pertemuan tersebut akan berlangsung sesuai rencana. “Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah memberikan dukungan bagi pasar minyak,” ujar analis komoditas Rakuten Securities Satoru Yoshida. Harga minyak juga mendapat sokongan dari data industri yang menunjukkan penurunan tajam stok minyak mentah AS. Persediaan minyak di negara produsen dan konsumen terbesar dunia itu turun lebih dari 11 juta barel pekan lalu, menurut sumber yang mengutip data American Petroleum Institute (API).
Baca Juga: Bursa Saham Australia Ditutup Menguat, Disokong Sektor Pertambangan & Perbankan Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) AS dijadwalkan rilis pada Rabu pukul 10.30 waktu setempat (15.30 GMT). Sebelumnya, analis yang disurvei Reuters justru memperkirakan adanya kenaikan stok minyak mentah. Pada Selasa, harga minyak juga terdorong oleh kesepakatan dagang antara AS dan India yang meningkatkan harapan terhadap permintaan energi global.
Di saat yang sama, serangan Rusia yang terus berlanjut ke Ukraina memperkuat kekhawatiran bahwa minyak Rusia akan tetap dikenai sanksi lebih lama. “Kesepakatan dagang India-AS untuk menghentikan pembelian minyak mentah Rusia, ditambah perang Rusia–Ukraina yang masih berlangsung, turut menopang harga,” kata Yoshida, seraya memperkirakan harga WTI akan bergerak di kisaran US$65 per barel dalam waktu dekat.