KONTAN.CO.ID - Harga minyak kembali melemah pada Selasa (25/8/2026), melanjutkan penurunan lebih dari 2% pada sesi sebelumnya. Investor cenderung mengabaikan dampak sanksi terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Mengutip
Reuters, harga minyak Brent turun 90 sen atau 1% menjadi US$ 91,27 per barel pada pukul 06.30 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 76 sen atau 0,9% menjadi US$ 84,25 per barel.
Baca Juga: AS Ancam Sanksi Negara yang Tetap Jalin Bisnis dengan Iran, China Jadi Sorotan Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya ditutup melemah pada Senin (24/8). Harga minyak AS bahkan mencapai level terendah dalam sepekan akibat aksi ambil untung setelah harga menguat dalam dua pekan sebelumnya. "Pasar tampaknya sebagian besar tidak terpengaruh oleh upaya Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Para pedagang menilai upaya AS untuk mendorong mitra dagang menjauh dari perdagangan dengan Iran sebagai faktor marginal dan bukan penggerak pasar," kata analis komoditas ING dalam catatannya, Selasa. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin mengumumkan perluasan sanksi untuk memutus sumber pendapatan ekonomi Iran dan mendorong berakhirnya perang antara kedua negara. AS memperingatkan negara-negara yang masih mempertahankan hubungan bisnis dengan Iran dapat kehilangan akses terhadap sistem keuangan berbasis dolar AS. Namun, Bessent tidak menyebut negara mana yang akan menjadi sasaran maupun kapan sanksi tersebut mulai diberlakukan. Menurut dia, Washington akan memberikan waktu bagi negara dan perusahaan terkait untuk mematuhi kebijakan baru tersebut.
Baca Juga: Iran Bersumpah Balas Tekanan Ekonomi AS, Harga Minyak Jadi Perhatian Pasar Nilai Risiko Gangguan Pasokan Lebih Rendah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Washington tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer terhadap Iran. Meski demikian, AS kini lebih mengandalkan tekanan ekonomi. Analis menilai, pergeseran tersebut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah akibat konflik.
Baca Juga: Prancis dan Arab Saudi Sepakat Bangun Taman Hiburan Dragon Ball Z Senilai US$7 Miliar "Pasar tampaknya menilai tekanan ekonomi sebagai jalur yang berisiko lebih rendah terhadap pasokan fisik dibandingkan tindakan militer. Itu sebabnya reaksi awal harga minyak justru turun, bukan melonjak," ujar Tim Waterer, kepala analis pasar KCM. Meski demikian, Waterer memperingatkan Iran masih memiliki kemampuan untuk mengganggu pelayaran, sehingga risiko tersebut tetap memberikan premi tertentu pada harga minyak. Risiko tersebut kembali terlihat pada Selasa. Sebuah kapal tanker terkena proyektil yang belum diketahui asalnya dan mengalami kerusakan sekitar 9 mil laut atau 16,7 kilometer sebelah timur laut Ash Shishah, Oman, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations. Iran juga masih mempertahankan klaim kendali atas Selat Hormuz. Sebelum perang dimulai pada Februari, jalur strategis tersebut biasanya menjadi lintasan kargo yang setara dengan sekitar 20% konsumsi minyak global. Pada Senin, Iran menyebut 45 kapal tanker telah melanggar aturan melintasi Selat Hormuz dan mengancam akan mengambil tindakan terhadap kapal-kapal tersebut, termasuk menyita muatannya.
Baca Juga: Bitcoin Tembus US$80.000, Tertinggi 3 Bulan Didorong Pelemahan Dolar AS Cadangan Minyak AS Terus Menyusut
Gangguan pasokan akibat perang AS-Israel dengan Iran yang dimulai pada 28 Februari telah mendorong sejumlah negara mengurangi cadangan minyak komersial maupun strategis. Departemen Energi AS pada Senin melaporkan stok minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun sekitar 3,7 juta barel pada pekan lalu menjadi 289,7 juta barel. Posisi tersebut merupakan level terendah sejak November 1982. Kondisi cadangan minyak AS yang terus menurun menjadi salah satu faktor yang tetap perlu diperhatikan pasar, meski investor saat ini lebih fokus pada dampak sanksi ekonomi AS dan perkembangan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.