Harga Minyak Masih Berpotensi Naik, Ini Skenario Terburuknya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan harga minyak dunia menjadi sorotan utama pasar global. 

Melansir Bloomberg, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2026 di New York Mercantile Exchange ditutup pada level US$ 101,94 per barel, turun 2,98% dari sehari sebelumnya. Namun sejak awal tahun, harga minyak WTI sudah naik 78,81%.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai kenaikan tajam harga minyak ini merupakan hasil akumulasi berbagai faktor fundamental dan geopolitik yang terjadi secara bersamaan.


Menurut dia, salah satu pemicu utama adalah gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Ancaman terhadap kapal tanker di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar akan terjadinya gangguan pasokan global.

Baca Juga: Dinamika Global, Token Real World Assets (RWA) Bisa Jadi Diversifikasi Bagi Investor

“Ini menjadi game changer karena pasar melihat adanya risiko supply shock,” ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).

Selain itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk sentimen. Kebijakan Washington yang tetap membatasi ekspor minyak Iran memicu kekhawatiran pengetatan pasokan lebih lanjut.

Faktor lain datang dari keputusan Uni Emirat Arab yang keluar dari aliansi OPEC+ mulai 1 Mei 2026. Langkah ini menimbulkan ketidakpastian terkait stabilitas kuota produksi minyak global ke depan.

Di sisi fundamental, permintaan energi juga meningkat, terutama untuk bahan bakar jet dan diesel. Hal ini didorong oleh cuaca dingin ekstrem di wilayah Amerika Serikat bagian timur laut serta pemulihan sektor logistik global.

Wahyu menilai, saat ini pasar minyak berada dalam fase high risk premium, di mana harga mencerminkan premi risiko akibat ketidakpastian geopolitik.

Dalam jangka pendek, tren kenaikan harga diperkirakan masih berlanjut, khususnya selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda. 

Bahkan, dalam skenario terburuk jika terjadi blokade total, harga Brent berpotensi melonjak ke kisaran US$ 140 hingga US$ 150 per barel.

Namun demikian, tekanan harga diperkirakan mulai mereda pada kuartal III-2026. Hal ini seiring rencana pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) oleh negara-negara konsumen besar serta potensi penurunan permintaan akibat tingginya harga energi.

Dari sisi strategi, Wahyu menyarankan investor untuk lebih selektif dalam menghadapi volatilitas tinggi di pasar energi. 

Baca Juga: Menanti Data Manufaktur, Begini Proyeksi Rupiah untuk Senin, (4/5)

Sektor energi, khususnya hulu (upstream), dinilai masih diuntungkan dari kenaikan harga minyak, meski tetap perlu mewaspadai risiko kebijakan pajak tambahan atas keuntungan besar.

Selain itu, instrumen safe haven seperti emas juga dinilai menarik di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sebaliknya, sektor transportasi dan konsumer berpotensi tertekan akibat lonjakan biaya energi.

Untuk proyeksi 2026, Wahyu memperkirakan harga minyak akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan menguat di paruh pertama tahun. 

Harga Brent diproyeksikan mencapai puncak di kisaran US$ 125 hingga US$ 130 per barel pada kuartal II-2026, sebelum berangsur turun ke rata-rata US$ 90 hingga US$ 96 per barel pada akhir tahun.

Sementara itu, harga WTI diperkirakan menyentuh level US$ 115 hingga US$ 120 per barel pada puncaknya, lalu bergerak di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel menjelang akhir 2026.

Wahyu juga mengingatkan adanya skenario risiko rendah namun berdampak besar. 

"Jika konflik di Timur Tengah meluas dan menyebabkan penutupan Selat Hormuz secara permanen lebih dari satu bulan, skenario bullish ekstrem bisa membawa harga minyak ke level historis hingga di atas US$ 150 bahkan mendekati US$ 200 per barel," pungkasnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News