Harga Minyak Masih Berpotensi Tinggi, Investor Disarankan Tunggu Koreksi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas mendorong lonjakan tajam harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir.

Melansir Trading Economics pada pukul 10.15 WIB, harga minyak Brent berada di level US$ 108,2 per barel atau naik 77,8% ytd.

Ada pun demikian, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 101,9 per barel atau naik 77,5% ytd.


Kendati demikian, pada pertengahan pekan lalu harga minyak Brent crude oil sempat menembus level US$ 120 per barel, sementara WTI juga menguat hingga kisaran US$ 110 per barel.

Baca Juga: AS Perpanjang Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Mentah Melonjak

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan menilai, lonjakan harga minyak sepekan ini lebih banyak dipicu oleh faktor geopolitik yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. 

Amerika Serikat disebut masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran memberi sinyal potensi balasan.

“Sehingga, pasar melihat adanya risiko besar terhadap distribusi energi dari kawasan Timur Tengah masih tinggi,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).

Selain faktor geopolitik, data dari Energy Information Administration (EIA) turut memperkuat sentimen kenaikan harga.

Stok minyak Amerika Serikat dilaporkan turun tajam lebih dari 6,2 juta barel, sementara ekspor justru meningkat ke level tertinggi.

"Artinya, permintaan masih kuat ketika pasokan mulai mengetat, kombinasi ini yang mendorong Brent dan WTI melonjak cukup agresif," tambah Brahmantya.

Baca Juga: Blokade AS dan Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Meroket Tanpa Rem!

Lebih lanjut, Brahmantya menilai tren harga minyak yang tinggi masih berpotensi bertahan selama ketegangan geopolitik belum mereda. Pasar, menurutnya, masih memberikan premi risiko (risk premium) terhadap harga energi.

“Selama tensi geopolitik masih memanas, harga minyak cenderung tetap tinggi. Namun jika jalur diplomasi mulai terbuka dan distribusi kembali normal, harga bisa berangsur mereda,” jelasnya.

Dari sisi strategi, investor diimbau untuk tidak terburu-buru masuk di level harga tinggi saat ini. Brahmantya menyarankan agar pelaku pasar menunggu koreksi yang lebih sehat sebelum melakukan akumulasi secara bertahap.

“Sektor energi masih menarik, namun volatilitasnya juga tinggi. Jadi lebih baik masuk secara bertahap,” tambahnya.

Untuk proyeksi ke depan, ia memperkirakan harga minyak WTI berpotensi bergerak cenderung menguat, di kisaran US$ 110 hingga US$ 120 per barel dalam waktu dekat. 

Baca Juga: UEA Keluar Dari OPEC, Begini Dampaknya ke Pasokan Minyak Mentah Global

Sementara itu, arah pergerakan harga minyak secara keseluruhan pada 2026 akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik global.

Dengan demikian, faktor geopolitik diperkirakan tetap menjadi penentu utama arah harga minyak dalam jangka menengah hingga panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News