Harga minyak masih terbebani isu pasokan



NEW YORK. Harga minyak dunia melandai pada perdagangan di pasar Amerika, Senin (17/7), setelah sempat melesat 5% pada pekan lalu. Investor menunggu indikasi kuat efektivitas upaya yang diprakarsai OPEC untuk memangkas pasokan.

Harga minyak mentah Brent turun 1% ke level US$ 48,44 per barel pada akhir perdagangan Senin. Adapun, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri sesi perdagangan Senin pada posisi US$ 46,02 per barel, atau turun 1,1%.

Seorang pejabat di industri perminyakan menyebut, produksi minyak nasional Libya mencapai 1,03 juta barel per hari, hanya sedikit berubah dari level akhir bulan lalu.


Sementara, pengeboran minyak di AS masih menambah dua rig minyak dalam sepekan terakhir, sehingga total ada 765 rig yang beroperasi. Meski demikian, jumlah penambahan rig AS selama empat pekan terakhir menunjukkan pertumbuhan yang paling lambat sejak November.

"Ide tingkat produksi yang lebih tinggi, terutama di AS, Libya dan Nigeria. Sepertinya harga minyak sudah memperhitungkan sentimen tersebut," kata Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy seperti dilansir CNBC, Senin.

"Saya skeptis, saya pikir pasar sudah melambung, tapi mengalami kesulitan untuk menemukan daya tarik untuk bergerak lebih tinggi," lanjutnya.

Penurunan tajam persediaan minyak mentah AS pada pekan lalu sempat menyokong harga minyak. Namun, stok minyak mentah di negara-negara industri tetap tinggi, sehingga kembali menekan harga minyak.

Pemangkasan produksi yang dipimpin oleh OPEC juga sempat mendukung harga minyak. Namun, meningkatnya pasokan dari dua anggota lainnya, Nigeria dan Libia, kembali membebani pasar.

"Pasar tidak bergerak terlalu banyak hari ini, seperti menunggu dan melihat. Ada beberapa produk rebalancing, tapi secara keseluruhan stok masih sangat besar," kata Olivier Jakob dari analis minyak Petromatrix.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini