KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah antisipatif agar gejolak harga energi tidak berdampak besar terhadap inflasi dan stabilitas fiskal. Melansir Reuters, pada Rabu (4/3/2026) harga minyak mentah acuan Brent naik US$ 1,11 atau 1,4% menjadi US$82,53 per barel, setelah ditutup pada level tertinggi sejak Januari 2025 pada sesi sebelumnya. Harga minyak meningkat setelah perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mengganggu produksi dan menghentikan ekspor energi dari kawasan Timur Tengah. Ahli Strategi Makro Senior, Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menilai, pemerintah perlu segera mengaktifkan kerangka kerja kontingensi subsidi bahan bakar apabila harga minyak mentah Brent menembus level US$ 90 per barel selama lebih dari lima hari perdagangan berturut-turut.
Harga Minyak Melambung, Beban Fiskal Diperkirakan Bertambah hingga Rp 80 Triliun
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah antisipatif agar gejolak harga energi tidak berdampak besar terhadap inflasi dan stabilitas fiskal. Melansir Reuters, pada Rabu (4/3/2026) harga minyak mentah acuan Brent naik US$ 1,11 atau 1,4% menjadi US$82,53 per barel, setelah ditutup pada level tertinggi sejak Januari 2025 pada sesi sebelumnya. Harga minyak meningkat setelah perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mengganggu produksi dan menghentikan ekspor energi dari kawasan Timur Tengah. Ahli Strategi Makro Senior, Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menilai, pemerintah perlu segera mengaktifkan kerangka kerja kontingensi subsidi bahan bakar apabila harga minyak mentah Brent menembus level US$ 90 per barel selama lebih dari lima hari perdagangan berturut-turut.
TAG: