Harga Minyak Melandai Pasca Pemilu AS, Simak Prospek Harga Selanjutnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia diproyeksikan melandai dalam jangka pendek hingga menengah. Sentimen ini didorong atas kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS), yang memicu optimisme pasar terhadap de-eskalasi konflik geopolitik dengan Iran.

Kendati demikian, pasar tetap mewaspadai risiko eskalasi politik dan aksi militer yang berpotensi memicu lonjakan harga sewaktu-waktu.

Kamis (5/11/2026) pukul 19.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Januari 2027 menguat US$ 1,75 atau 1,85% menjadi US$ 96,37 per barel. 


Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Desember 2026 naik 89 sen atau 1% ke US$ 89,01 per barel.

Baca Juga: NAB Reksadana Panin AM Tertekan pada Oktober 2026, Value Investing Jadi Tumpuan

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan menjelaskan bahwa harga minyak dalam jangka pendek masih menghadapi tekanan karena pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik pasca-pemilu paruh waktu AS. Hasil pemilu meningkatkan ekspektasi bahwa tekanan politik terhadap pemerintahan Trump dapat mendorong penyelesaian konflik dengan Iran, sehingga risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Selat Hormuz berpotensi berkurang. "Namun, saya melihat koreksi saat ini berpotensi terlalu dalam. Meskipun premi risiko geopolitik mulai berkurang,persediaan produk minyak AS masih relatif ketat. Persediaan distilat bahkan turun sekitar 3,57 juta barel dan berada di bawah 100 juta barel, level terendah sejak 2003," ujar Brahmantya kepada KONTAN, Kamis (5/11/2026). Di samping dinamika stok AS, Brahmantya menilai beberapa faktor kunci lain juga akan memengaruhi pergerakan harga.Di antaranya kebijakan produksi dan disiplin kuota OPEC+, prospek permintaan dari China dan global, potensi gangguan distribusi di Selat Hormuz, hingga arah pergerakan dolar AS. "Menurut saya, faktor paling menentukan adalah perkembangan diplomasi AS-Iran dan apakah pasokan minyak dari kawasan Teluk benar-benar dapat kembali normal," ungkap Brahmantya.

Baca Juga: Surat Utang Korporasi Makin Ramai, Pendanaan Lewat IPO Tertinggal di 2026 Untuk proyeksi dasar hingga akhir tahun 2026, Brahmantya mematok rentang harga WTI di kisaran US$ 80 hingga US$ 95 per barel dan Brent pada US$ 88 hingga US$ 103 per barel. Dalam skenario deeskalasi yang lebih kuat, WTI berpotensi melandai menuju US$ 75–US$ 80 per barel dan Brent ke US$ 83–US$ 88 per barel.

Sebaliknya, apabila negosiasi diplomasi gagal atau terjadi eskalasi militer baru, WTI berpotensi kembali melonjak ke US$ 100–US$ 115 per barel dan Brent ke US$ 110–US$ 125 per barel. "Bagi investor, saya menyarankan tidak terburu-buru melakukan pembelian hanya karena harga sudah terkoreksi tajam.Lebih baik menunggu konfirmasi arah harga, mencermati perkembangan diplomasi dan data persediaan minyak, serta menerapkan manajemen risiko yang disiplin," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News