Harga Minyak Melemah 1% di Akhir Pekan, Ini Sentimen yang Menyeretnya



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak berakhir lebih rendah pada hari Jumat karena saham perbankan Eropa jatuh dan setelah Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Jennifer Granholm mengatakan pengisian ulang Cadangan Minyak Strategis (SPR) mungkin memakan waktu beberapa tahun, mengurangi prospek permintaan.

Jumat (24/3), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2023 ditutup turun 92 sen atau 1,2% ke US$ 74,99 per ons troi.

Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman April 2023 turun 70 sen atau 1% ke US$ 69,26 per barel.


Kedua benchmark naik minggu ini karena gejolak sektor perbankan mereda. Brent berjangka naik 2,8% dalam sepekan dan WTI naik 3,8%. Pekan lalu, kedua tolok ukur membukukan penurunan terbesar dalam beberapa bulan.

"Kami mengikuti hambatan ekonomi makro, dan ada korelasi yang baru ditemukan dengan ekuitas," kata John Kilduff, partner di Again Capital LLC di New York.

Baca Juga: Turun Tajam Hari Ini, Harga Minyak Masih Menguat Dalam Sepekan Terakhir

Saham perbankan merosot di Eropa dengan Deutsche Bank dan UBS Group terpukul oleh kekhawatiran bahwa masalah terburuk di sektor ini sejak krisis keuangan 2008 dapat bertahan.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengadakan pertemuan tak terjadwal dari Dewan Pengawas Stabilitas Keuangan pada Jumat pagi.

Di mana, dolar AS naik 0,6% terhadap mata uang lainnya, yang juga menekan minyak, membuat minyak mentah lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Gedung Putih mengatakan pada bulan Oktober akan membeli kembali minyak untuk SPR ketika harga berada di atau di bawah sekitar US$ 67 - US$ 72 per barel.

Pada hari Kamis, Granholm mengatakan kepada anggota parlemen bahwa akan sulit untuk memanfaatkan harga rendah tahun ini untuk menambah stok, yang berada pada level terendah sejak 1983 setelah penjualan diarahkan oleh Presiden Joe Biden tahun lalu.

Minyak menarik beberapa dukungan dari ekspektasi permintaan yang kuat dari China. Goldman Sachs mengatakan permintaan komoditas melonjak di importir minyak terbesar dunia, dengan permintaan minyak mencapai 16 juta barel per hari.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Jatuh, AS Menunda Pengisian Cadangan Strategis

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan pemotongan yang sebelumnya diumumkan sebesar 500.000 barel per hari (bpd) dalam produksi minyak Rusia akan berasal dari tingkat produksi 10,2 juta bpd pada bulan Februari, kantor berita RIA Novosti melaporkan.

Itu berarti Rusia bertujuan untuk memproduksi 9,7 juta barel per hari antara Maret dan Juni, menurut Novak, pengurangan produksi yang jauh lebih kecil daripada yang ditunjukkan Moskow sebelumnya.

Editor: Anna Suci Perwitasari