KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak turun pada hari Kamis (15/2) karena Badan Energi Internasional atawa International Energy Agency (IEA) menandai perlambatan pertumbuhan permintaan tahun ini. Sementara lonjakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang lebih besar dari perkiraan juga membebani. Kamis (15/2) pukul 19.10 WIB, harga minyak WTI kontrak Maret 2024 di New York Mercantile Exchange turun 0,65% ke US% 76,14 per barel. Sedangkan harga minyak Brent kontrak April 2024 di ICE Futures turun 0,63% ke US$ 81,08 per barel. Laporan pasar minyak bulanan IEA pada hari Kamis mengatakan bahwa permintaan minyak global kehilangan momentum. Alhasil, lembaga internasional ini memangkas perkiraan pertumbuhan tahun 2024 menjadi 1,22 juta barel per hari (bph) dari 1,24 juta barel per hari.
Dari sisi suplai, IEA memperkirakan pasokan akan tumbuh sebesar 1,7 juta barel per hari pada tahun ini. Prediksi pasokan naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,5 juta barel per hari. Baca Juga: Pemerintah Matangkan Serapan Gas Domestik untuk Hadapi Larangan Ekspor Gas di 2036 Kedua harga kontrak acuan minyak turun lebih dari US$ 1 per barel pada hari Rabu. Harga minyak tertekan oleh kenaikan persediaan minyak mentah AS karena penyulingan turun ke level terendah sejak Desember 2022. Badan Informasi Energi AS atawa Energy Information Administration (EIA) mengatakan, persediaan minyak mentah AS melonjak 12 juta barel menjadi 439,5 juta barel dalam sepekan hingga 9 Februari. Angka ini jauh melebihi kenaikan 2,6 juta barel yang diperkirakan oleh para analis dalam jajak pendapat Reuters. “Peningkatan persediaan ini disebabkan oleh penurunan lebih lanjut dalam operasi kilang dan permintaan produk minyak bumi yang relatif lebih lemah,” kata analis SEB Ole Hvalbye kepada Reuters. Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terkoreksi, Analis Sebut Ada Pengaruhnya dari Konflik di Texas Mengimbangi pasokan minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan, data EIA menunjukkan bahwa stok bensin dan sulingan turun lebih besar dari perkiraan. Stok bensin turun 3,7 juta barel menjadi 247,3 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi penurunan 1,2 juta barel.