Harga Minyak Melemah Setelah Lonjakan, Pasar Tunggu Hasil Negosiasi Iran-AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada Selasa (21/4/2026), setelah sempat melonjak tajam sehari sebelumnya.

Pelaku pasar kini memasuki fase wait and see sambil mencermati perkembangan negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta faktor fundamental lain yang memengaruhi pasokan dan permintaan global.

Melansir data Trading Economics pada pukul 17.37 WIB, minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 1,23% secara harian ke level US$ 86,33 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent terkoreksi 1,25% ke posisi US$ 94,26 per barel. Padahal pada hari sebelumnya, harga WTI dan Brent sempat melonjak lebih dari 5%.


Analis komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai koreksi terbatas setelah lonjakan tajam tersebut menunjukkan harga minyak masih bertahan di level tinggi seiring sensitivitas pasar terhadap perkembangan negosiasi di Islamabad.

Baca Juga: MSCI Berpotensi Pakai Data Kepemilikan di Atas 1%, Bobot BBCA Cs Bakal Terpangkas

Ia menambahkan, secara umum prospek harga minyak saat ini tidak lagi didorong kepanikan seperti sebelumnya, tetapi tetap berada dalam fase volatilitas tinggi.

"Kemarin pasar bergerak berdasarkan kepanikan dan spekulasi awal, sementara hari ini pasar mulai memasuki fase wait and see yang lebih terkendali," ujar Wahyu kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).

Menurut Wahyu, arah harga minyak dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh hasil negosiasi. Jika delegasi Iran di Islamabad memberikan sinyal de-eskalasi yang nyata, harga WTI berpotensi turun di bawah US$ 85 per barel.

Sebaliknya, jika negosiasi kembali menemui jalan buntu, harga minyak bisa dengan cepat berbalik menguat ke atas level US$ 90 per barel.

"Trader saat ini cenderung melakukan aksi ambil untung (profit-taking) setelah lonjakan kemarin, sehingga tren hari ini terlihat lebih 'lemah' meski fundamentalnya masih panas," kata Wahyu.

Selain faktor geopolitik, Wahyu menyebut sejumlah indikator lain turut memengaruhi pergerakan harga minyak. Salah satunya adalah pemulihan aliran logistik di Selat Hormuz yang belum sepenuhnya normal, sehingga setiap perkembangan di jalur ini akan langsung berdampak pada harga.

Baca Juga: Investor Asing Selektif, Persepsi Risiko Investasi SBN Turun Saat Yield Stabil

Dari sisi permintaan, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global, khususnya di Amerika Serikat, juga mulai membayangi prospek konsumsi minyak. Data ekonomi yang melemah berpotensi menahan kenaikan harga meskipun tensi geopolitik masih tinggi.

Di sisi lain, pasar turut mencermati sikap OPEC+ dalam merespons potensi gangguan pasokan dari Iran, apakah akan meningkatkan produksi atau mempertahankan kuota untuk menjaga harga tetap tinggi.

Wahyu juga menyoroti adanya selisih harga yang cukup lebar antara minyak fisik dan kontrak berjangka, yang mencerminkan kondisi pasokan riil di lapangan masih relatif ketat.

Secara keseluruhan, sentimen netral-ke-bearish jangka pendek ini hanya akan bertahan jika ada progres diplomasi di Islamabad yang valid sebelum masa gencatan senjata berakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News