Harga Minyak Melemah Tipis di Siang Ini (10/2), Brent ke US$ 68,85 Per Barel



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak sedikit turun pada hari Selasa karena pasar memperkirakan potensi gangguan pasokan setelah panduan Amerika Serikat (AS) untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz membuat perhatian tetap tertuju pada ketegangan antara Washington dan Teheran.

Selasa (10/2/2026) pukul 11.15 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman April 2026 turun 18 sen atau 0,26% menjadi US$ 68,85 per barel. 

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Maret 2026 melemah turun 21 sen, atau 0,33% ke US$ 64,15 per barel.


Hal itu terjadi setelah harga naik lebih dari 1% pada hari Senin, ketika Administrasi Maritim Departemen Transportasi AS menyarankan kapal komersial berbendera AS untuk tetap berada sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran dan secara verbal menolak izin pasukan Iran untuk naik ke kapal jika diminta.

Baca Juga: Kekayaan 50 Orang Terkaya Australia Naik US$ 11 Miliar Sepanjang 2025

Sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi secara global melewati Selat Hormuz antara Oman dan Iran, sehingga setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut merupakan risiko besar bagi pasokan minyak global.

Iran bersama dengan anggota OPEC lainnya, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama ke Asia.

Pedoman tersebut dikeluarkan meskipun diplomat utama Iran mengatakan pekan lalu bahwa pembicaraan nuklir yang dimediasi Oman dengan AS telah dimulai dengan "awal yang baik" dan akan berlanjut.

"Meskipun pembicaraan di Oman menghasilkan nada yang hati-hati namun positif, ketidakpastian yang masih ada mengenai potensi eskalasi, pengetatan sanksi, atau gangguan pasokan di Selat Hormuz telah mempertahankan premi risiko yang moderat," tulis Tony Sycamore, seorang analis di IG, dalam catatan klien.

Sementara itu, Uni Eropa telah mengusulkan perluasan sanksi terhadap Rusia untuk mencakup pelabuhan di Georgia dan Indonesia yang menangani minyak Rusia, pertama kalinya blok tersebut akan menargetkan pelabuhan di negara ketiga, menurut dokumen proposal yang ditinjau oleh Reuters.

Baca Juga: Booming AI: Singapura Kerek Target Pertumbuhan Ekonomi 2026 Jadi 4%

Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk memperketat sanksi terhadap minyak Rusia, sumber pendapatan utama bagi Moskow, terkait perang di Ukraina.

Indian Oil Corp membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah, kata para pedagang, karena negara Asia tersebut menghindari minyak Rusia dalam upaya New Delhi untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan Washington. 

Selanjutnya: Kekayaan 50 Orang Terkaya Australia Naik US$ 11 Miliar Sepanjang 2025

Menarik Dibaca: Desain XOS 16 Infinix: Visual Premium & Performa Ngebut, Siap Saingi HP Flagship