KONTAN.CO.ID - SINGAPORE. Harga minyak melonjak US$ 3 per barel di awal perdagangan sesi Asia karena Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan mengenai proposal perdamaian yang disusun oleh Washington. Di sisi lain, Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga pasokan energi global tetap ketat. Senin (11/5/2026) pukul 05.15 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 naik US$ 3,21 atau 3,17% menjadi US$ 104,50 per barel. Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 menguat US$ 3,06 atau 3,21% ke US$ 98,48 per barel.
Baca Juga: Trump ke China Pekan Ini, Negosiasi Rare Earth dan Taiwan Menghangat Kesepakatan damai antara AS dan Iran gagal terjadi setelah Presiden Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk pembicaraan perdamaian pada Minggu (10/5/2026). Hal ini menghancurkan harapan akan segera berakhirnya krisis tersebut. Konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu ini telah menyebabkan kerusakan luas di Iran dan Lebanon, melumpuhkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga energi global. Beberapa hari setelah AS mengajukan tawaran dengan harapan dapat membuka kembali negosiasi, Iran pada hari Minggu (10/5/2026) merilis tanggapan yang berfokus pada pengakhiran perang di semua lini, terutama Lebanon, dan pada keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz yang diblokade. Beberapa jam setelah proposal Iran dirilis, Trump menolaknya dengan sebuah unggahan di media sosial. "Saya tidak menyukainya – SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA," tulis Trump di Truth Social, tanpa memberikan detail lebih lanjut. Alhasil, harga minyak naik US$ 3 per barel setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan. Proposal Iran mencakup tuntutan kompensasi atas kerusakan perang dan penekanan pada kedaulatan Iran atas selat tersebut, kata media pemerintah. Laporan itu juga menyerukan AS untuk mengakhiri blokade angkatan lautnya, menjamin tidak akan ada serangan lebih lanjut, mencabut sanksi, dan mengakhiri larangan AS terhadap penjualan minyak Iran, kata kantor berita semi-resmi Tasnim.
Baca Juga: Ini Isi Proposal Terbaru Damai Iran yang Dikirim ke AS Lewat Pakistan AS telah mengusulkan penghentian pertempuran sebelum memulai pembicaraan tentang isu-isu yang lebih kontroversial, termasuk program nuklir Iran. Wall Street Journal mengutip sumber anonim yang mengatakan Iran mengusulkan untuk mengurangi sebagian uranium yang sangat diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga. Pakistan, yang telah menjadi mediator dalam pembicaraan mengenai perang tersebut, meneruskan tanggapan Iran kepada AS, kata seorang pejabat Pakistan. Meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama sebulan dalam konflik tersebut dan setelah sekitar 48 jam relatif tenang, drone musuh terdeteksi di beberapa negara Teluk pada hari Minggu, yang menggarisbawahi ancaman yang masih dihadapi kawasan tersebut.
Namun, kapal pengangkut Al Kharaitiyat yang dioperasikan oleh QatarEnergy berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dalam perjalanan menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan, menurut data dari perusahaan analisis perkapalan Kpler. Ini adalah kapal Qatar pertama yang membawa gas alam cair yang melintasi selat tersebut sejak AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari.
Baca Juga: Iran Balas Proposal Damai AS, Fokus Awal pada Penghentian Perang Sumber-sumber sebelumnya mengatakan bahwa transfer tersebut, yang memberikan sedikit kelegaan bagi Pakistan setelah gelombang pemadaman listrik yang disebabkan oleh penghentian impor gas, telah disetujui oleh Iran untuk membangun kepercayaan dengan Pakistan dan dengan Qatar, mediator lainnya. Selain itu, sebuah kapal pengangkut curah berbendera Panama yang menuju Brasil yang sebelumnya mencoba melintasi selat tersebut pada 4 Mei berhasil melewatinya, menggunakan rute yang ditentukan oleh angkatan bersenjata Iran, lapor Tasnim pada hari Minggu.