Harga Minyak Melonjak 3%, Serangan Iran ke UEA Picu Kekhawatiran Pasokan Global



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Selasa (17/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran kembali melancarkan serangan ke Uni Emirat Arab (UEA).

Melansir Reuters, harga minyak acuan global Brent naik US$3,21 atau 3,2% ke level US$103,42 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,71 atau 2,9% ke US$96,21 per barel.

Baca Juga: Harga BBM AS Tembus US$3,75 per Galon, Dampak Perang Timur Tengah Kian Terasa


Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global yang berpotensi berkepanjangan, seiring konflik AS–Israel dengan Iran yang telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda mereda.

Serangan terbaru Iran menargetkan fasilitas minyak di pelabuhan Fujairah, UEA, yang menyebabkan aktivitas pemuatan minyak sempat terhenti sebagian setelah kebakaran terjadi di terminal ekspor.

Fujairah merupakan jalur penting di luar Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 1% pasokan minyak global.

Selain itu, gangguan di Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia kian memperburuk prospek pasokan. Bahkan, produksi UEA dilaporkan turun lebih dari separuh akibat hambatan distribusi.

Baca Juga: Macron Bantah Trump: Paris Ogah Ikut Operasi Militer Selat Hormuz

Risiko Pasokan Masih Tinggi

Analis pasar IG Tony Sycamore menilai, situasi saat ini masih sangat rentan terhadap eskalasi lanjutan.

“Risikonya tetap besar. Cukup satu serangan rudal atau ranjau terhadap kapal tanker untuk kembali memicu lonjakan harga dan memperburuk situasi,” ujarnya.

Meski harga minyak sempat turun pada awal pekan setelah beberapa kapal berhasil melintasi Selat Hormuz, pelaku pasar masih mewaspadai gangguan jangka panjang terhadap pasokan energi global.

Investment bank Cavendish dalam catatannya menyebut bahwa meskipun ada tanda pelonggaran sementara, gangguan terhadap distribusi minyak diperkirakan tetap signifikan.

“Pasar mungkin sedikit lega karena pasokan tidak sepenuhnya terhenti, namun gangguan yang terjadi tetap berpotensi besar,” tulis Cavendish.

Baca Juga: Brasil dan China Bersitegang soal Kedelai, Apa Akar Masalahnya?

Tekanan Geopolitik dan Respons Global

Di sisi lain, upaya Amerika Serikat (AS) untuk mengamankan jalur pelayaran belum mendapat dukungan luas dari sekutunya.

Donald Trump sebelumnya meminta negara-negara mitra untuk mengirim kapal perang guna mengawal tanker di Selat Hormuz. Namun, sejumlah negara Eropa menolak terlibat langsung dalam konflik tersebut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa negaranya tidak akan ikut serta dalam operasi militer untuk membuka jalur tersebut selama konflik masih berlangsung.

Sementara itu, penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menyatakan bahwa kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz, meskipun dalam jumlah terbatas.

Ia juga memperkirakan konflik dapat berlangsung selama beberapa pekan ke depan.

Baca Juga: Trump Tunda Kunjungan ke China di Tengah Konflik dengan Iran

Potensi Harga Masih Naik

Analis OANDA Kelvin Wong menyebut, harga minyak masih berpotensi melanjutkan kenaikan dalam jangka menengah.

“Secara teknikal, WTI memiliki level resistensi di kisaran US$124 per barel,” ujarnya.

Untuk meredam lonjakan harga energi, International Energy Agency (IEA) membuka peluang bagi negara-negara anggotanya untuk kembali melepas cadangan minyak strategis, di luar 400 juta barel yang sebelumnya telah disepakati.