KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Senin (13/7/2026) setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Eskalasi serangan kedua negara meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling vital di dunia. Hingga pukul 23.11 waktu setempat, harga minyak mentah Brent naik US$ 2,34 atau 3,08% menjadi US$ 78,35 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 2,21 atau 3,09% ke level US$ 73,62 per barel.
Ketegangan meningkat setelah Iran memperluas serangan ke Qatar dan Uni Emirat Arab pada akhir pekan.
Baca Juga: Harga Emas Turun pada Senin (29/6) Pagi, Pasca AS-Iran Saling Serang di Teluk Persia Di saat yang sama, militer AS kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran. Rangkaian aksi saling serang tersebut memperburuk situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia. Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran komersial. Namun sebelumnya, Iran mengumumkan telah menutup jalur tersebut setelah sebuah kapal melintasi rute yang tidak mendapat persetujuan dan kemudian menjadi sasaran serangan. Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu, jumlah terendah dalam lima pekan terakhir. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar bahwa arus distribusi energi global mulai terdampak oleh meningkatnya konflik. Memanasnya kembali hubungan kedua negara juga menimbulkan keraguan terhadap kelangsungan kesepakatan sementara AS-Iran yang diteken bulan lalu. Perjanjian tersebut sebelumnya diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik melalui tambahan negosiasi selama 60 hari.
Baca Juga: Harga Minyak Alami Kenaikan Usai AS-Iran Saling Gertak Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya pada Jumat lalu menyebutkan pasokan minyak global memang meningkat 4,1 juta barel per hari pada Juni setelah adanya kesepakatan tersebut. Namun, produksi dunia masih sekitar 9,4 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum perang. Analis ANZ menilai harapan pasar terhadap penyelesaian konflik dalam waktu singkat mulai memudar setelah ketegangan kembali meningkat sepanjang akhir pekan.
Sementara itu, analis pasar IG Tony Sycamore menilai kenaikan harga minyak yang masih relatif terbatas menunjukkan pelaku pasar menganggap konflik saat ini baru merupakan eskalasi dari gencatan senjata yang rapuh, bukan pertanda runtuhnya kesepakatan damai secara total.
Baca Juga: Harga Minyak Meroket: Perundingan Iran-AS Terancam Gagal, Pasokan Dunia Goyang Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penilaian tersebut masih bisa berubah apabila konflik terus meluas dan mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News