Harga Minyak Melonjak 5% Usai Ancaman Serangan Iran



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu setelah laporan ancaman dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang menyatakan akan menyerang sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah sebagai bentuk balasan atas eskalasi konflik yang sedang berlangsung.

Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Brent Tembus US$108 per Barel, WTI Ikut Menguat

Harga minyak mentah Brent tercatat naik US$5,26 atau sekitar 5% menjadi US$108,66 per barel pada pukul 11.05 waktu setempat. Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh level tertinggi sesi di US$109,95 per barel.


Baca Juga: Sri Lanka Perketat Pembatasan BBM Seiring Semakin Parahnya Kelangkaan Pasokan

Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,44 atau 2,54% menjadi US$98,65 per barel. WTI juga mencatat diskon terbesar terhadap Brent sejak Mei 2019, di tengah kekhawatiran konflik berkepanjangan yang dapat memengaruhi distribusi minyak global.

Lonjakan harga ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik, terutama yang berkaitan dengan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

Serangan ke Infrastruktur Energi Iran Picu Eskalasi

Kenaikan harga terjadi setelah fasilitas energi besar Iran, termasuk ladang gas Pars Selatan (South Pars), dilaporkan terkena serangan. Insiden ini disebut sebagai salah satu eskalasi terbesar terhadap infrastruktur energi Iran dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Teheran kemudian mengeluarkan peringatan bahwa fasilitas energi di negara-negara tetangga di kawasan Teluk dapat menjadi target dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar akan meluasnya konflik ke sektor energi regional.

Menurut analis energi, setiap eskalasi tambahan yang menyasar infrastruktur minyak dan gas berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi.

Gangguan di Selat Hormuz Jadi Faktor Kunci

Ketegangan juga berdampak pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Aktivitas pengiriman di wilayah tersebut dilaporkan terganggu akibat konflik dan meningkatnya risiko keamanan.

Baca Juga: Trump Kecewa, Sekutu Enggan Turun Tangan Bantu Amankan Selat Hormuz

Total potensi penurunan produksi minyak di kawasan Timur Tengah diperkirakan mencapai 7–10 juta barel per hari, atau setara dengan 7%–10% permintaan global. Jika gangguan berlanjut, tekanan terhadap pasar energi global diperkirakan akan semakin besar.

Langkah Respons Amerika Serikat

Di tengah lonjakan harga energi, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan sejumlah langkah kebijakan untuk meredam dampak ekonomi, termasuk:

Pengecualian sementara selama 60 hari terhadap aturan Jones Act, yang memungkinkan kapal berbendera asing mengangkut bahan bakar dan barang tertentu antar pelabuhan AS.

Penerbitan izin umum terbatas terkait transaksi dengan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, guna membantu stabilisasi pasokan.

Langkah-langkah ini diambil untuk mengurangi tekanan pada rantai pasok dan menahan laju kenaikan harga energi serta komoditas lainnya.

Perkembangan Pasokan di Irak dan Libya

Di sisi lain, beberapa perkembangan memberikan sedikit dukungan terhadap pasokan global. Ekspor minyak Irak dilaporkan kembali melalui jalur pipa setelah adanya kesepakatan antara pemerintah pusat Baghdad dan Pemerintah Regional Kurdistan.

Baca Juga: Ratusan Juta iPhone Terancam Malware Darksword, Amankan Data Anda!

Namun, analis menilai dampaknya masih terbatas karena produksi Irak masih jauh di bawah tingkat sebelum krisis.

Sementara itu, di Libya, perusahaan minyak nasional melaporkan bahwa aliran minyak dari ladang Sharara mulai dialihkan melalui jalur alternatif setelah terjadi kebakaran.

Persediaan Minyak AS Meningkat

Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa cadangan minyak mentah Amerika Serikat naik 6,2 juta barel menjadi 449,3 juta barel dalam sepekan terakhir. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan lebih kecil.

Meski demikian, penurunan persediaan bensin dan distilat mengindikasikan permintaan domestik yang tetap kuat, sehingga dinamika pasar masih berpotensi bergejolak.