Harga Minyak Melonjak 7% Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia kembali melonjak hampir 7% pada perdagangan Rabu (29/7/2026) setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat dan memupus harapan pasar terhadap penyelesaian cepat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kekhawatiran gangguan pasokan semakin besar karena aktivitas pelayaran di jalur strategis Selat Hormuz masih rendah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$ 5,84 atau 6,9% menjadi US$ 89,93 per barel pada pukul 12.24 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 5,34 atau 6,7% ke level US$ 84,60 per barel.


Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan kenaikan harga minyak dipicu oleh kembali meningkatnya serangan militer di kawasan Timur Tengah serta sikap Iran yang masih ingin mengendalikan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Melanjutkan Reli Jumat (24/7) Pagi Imbas Memanasnya Konflik Timur Tengah

"Serangan militer yang kembali terjadi di Timur Tengah dan ketegangan terkait aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali mengangkat harga minyak," ujar Staunovo.

Ketegangan meningkat setelah AS dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok yang didukung Iran di Irak. Serangan tersebut dilakukan setelah kedua negara menuding kelompok tersebut bertanggung jawab atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.

Situasi semakin panas setelah militer AS menyatakan berhasil menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan AS di kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan akan memberikan respons terhadap Iran, yang kembali mendorong kenaikan harga minyak.

Selain konflik militer, pasar juga mencermati terganggunya lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak terbesar dunia yang menghubungkan produsen energi di kawasan Teluk dengan pasar global.

Data pelayaran menunjukkan hanya sedikit kapal komoditas yang melintas di Selat Hormuz sepanjang pekan ini. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan.

Baca Juga: Harga Minyak Berpotensi Naik Lagi, Konflik Timur Tengah Ancam Fasilitas Ekspor

Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman juga disebut tengah mempertimbangkan pengenaan biaya bagi kapal komersial yang melintas di Laut Merah. Langkah tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap perdagangan energi global, terutama jika mengganggu jalur alternatif pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke Asia.

Analis energi DBS Bank Suvro Sarkar memperkirakan harga minyak Brent masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan akibat perkembangan konflik yang sulit diprediksi.

"Kami memperkirakan harga Brent akan bergerak naik turun dalam kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per barel dalam jangka pendek seiring dinamika konflik Timur Tengah," kata Sarkar.

Dari sisi pasokan, harga minyak juga mendapat dorongan setelah stok minyak mentah AS dilaporkan turun sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli berdasarkan data American Petroleum Institute (API).

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Hampir 6% di Tengah Kekhawatiran Eskalasi Konflik Timur Tengah

Pasar juga menunggu data resmi persediaan minyak dari Energy Information Administration (EIA). Selain itu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) diperkirakan akan menghentikan sementara kenaikan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober setelah menyelesaikan pengembalian produksi yang sebelumnya dipangkas secara sukarela.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News