KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten-emiten minyak dan gas (migas) cukup beragam sepanjang 2025. Emiten di sektor ini berpotensi menikmati efek lonjakan harga minyak mentah dunia pada 2026 seiring konflik geopolitik di Timur Tengah. Salah satu emiten migas, PT Medco Energi Internasional Tbk (
MEDC) membukukan pendapatan senilai US$ 2,40 miliar pada 2025 atau setara dengan capaian tahun sebelumnya. Sebaliknya, laba bersih MEDC tergerus 72,48%
year on year (yoy) menjadi US$ 101 juta pada akhir tahun lalu. Di sisi lain, kinerja positif ditorehkan oleh PT Energi Mega Persada Tbk (
ENRG) dengan kenaikan penjualan bersih 7% yoy menjadi US$ 498,13 juta pada 2025. Bersamaan dengan itu, laba bersih ENRG ikut tumbuh 21% yoy menjadi US$ 91,53 juta.
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mencetak kenaikan pendapatan bersih 4,79% yoy menjadi US$ 266,67 juta pada 2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk RAJA juga 6,61% yoy menjadi US$ 27,24 juta.
Baca Juga: Kinerja Reksadana Tertekan di Maret tapi Peluang Rebound Masih Terbuka Sebaliknya, anak usaha RAJA yaitu PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) mengalami penurunan pendapatan bersih sebesar 14,60% yoy menjadi US$ 49,31 juta pada 2025. Namun, emiten ini mampu membukukan kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 10,02% yoy menjadi US$ 15,26 juta. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, kinerja emiten migas pada 2025 memang cukup beragam dan mencerminkan kombinasi antara dinamika harga minyak dunia dan capaian operasional masing-masing emiten, sehingga faktor penentunya tidak tunggal. Sebagai contohnya, kinerja laba bersih MEDC yang menurun pada tahun lalu disebabkan oleh kombinasi pelemahan harga minyak, kenaikan biaya operasional, dan beberapa faktor non-operasional lainnya. Emiten lain, ENRG yang meraih kenaikan pendapatan dan laba bersih dinilai mampu memanfaatkan perbaikan produksi dan efisiensi di tengah volatilitas harga minyak sepanjang tahun lalu. Sementara itu, RAJA menunjukkan kinerja yang stabil seiring basis bisnisnya yang lebih banyak ditopang oleh infrastruktur gas dan jasa energi. Alhasil, kenaikan pendapatan dan laba bersih emiten tersebut lebih mencerminkan pertumbuhan bisnis yang defensif. “Untuk RATU, pendapatan menurun namun laba naik menunjukkan adanya perbaikan efisiensi dan margin,” ujar dia, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: Tekanan Global Memicu Outflow, Simak Strategi Menata Ulang Portofolio pada April Senada, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, performa emiten migas pada 2025 lalu sangat dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang relatif rendah dan inisiatif emiten yang bersangkutan dalam berekspansi secara operasional. Khusus MEDC, Harry menilai penurunan laba bersih turut dipengaruhi oleh kinerja keuangan negatif yang dibukukan anak usahanya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Memasuki 2026, peluang emiten migas mencetak kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya terbuka lebar. Sentimen positif tentu datang dari tren kenaikan harga minyak dunia sejak awal Maret 2026 yang bertepatan dengan meningkatnya tensi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Saat ini, baik minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent sama-sama menembus level di atas US$ 100 per barel. Harry menilai, emiten migas berpotensi memperoleh keuntungan maksimal dari lonjakan harga minyak ketika mereka mampu menjual produk komoditas tersebut dengan kontrak jangka pendek kurang dari setahun. Dalam kondisi seperti ini, emiten juga perlu mematikan volume penjualan minyak dapat terus tumbuh agar momentum kenaikan harga minyak dunia bisa dimanfaatkan secara penuh. “Hal itu penting karena sumur minyak memiliki fase
natural declining,” kata dia, Kamis (2/4/2026). Ekky menjelaskan, harga minyak yang tinggi biasanya akan meningkatkan insentif bagi emiten migas untuk lebih aktif dalam melakukan produksi, eksplorasi, maupun mencari peluang akuisisi blok migas baru. Namun, langkah tersebut bakal tetap dilakukan secara selektif, mengingat emiten juga harus menjaga keekonomian proyek dan disiplin neraca keuangan. Ketika momentum harga minyak tinggi berlangsung, emiten harus fokus pada peningkatan produksi, efisiensi biaya lifting, optimalisasi aset eksisting, dan mempercepat proyek yang memang sudah ekonomis. Di sisi lain, pihak emiten juga patut mewaspadai risiko pelemahan kurs lantaran sebagian biaya operasional, jasa, dan belanja modal mereka memiliki eksposur valuta asing (valas). “Ke depannya, emiten migas yang paling unggul bukan hanya ditentukan oleh harga minyak tinggi, tetapi juga memiliki eksekusi operasional kuat, neraca sehat, dan manajemen risiko yang baik,” ungkap dia. Ekky menjadikan MEDC sebagai emiten migas yang sahamnya paling layak dikoleksi oleh para investor di sektor migas, sedangkan ENRG menjadi pilihan kedua. Secara umum, sektor migas masih layak dipertimbangkan oleh investor pada tahun 2026, terutama selama harga minyak bertahan di level tinggi dan tensi geopolitik global belum benar-benar mereda. Di lain pihak, Harry menyebut saham ENRG dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga di level Rp 2.300 per saham. Lebih lanjut, dalam riset tertanggal 17 Maret 2026, Research Analyst MNC Sekuritas Christian Sitorus meningkatkan rekomendasinya untuk sektor migas menjadi overweight. Hal ini dengan pertimbangan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah menciptakan premi risiko geopolitik yang signifikan serta membatasi pasokan minyak global melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz sedangkan kapasitas produksi baru tetap terbatas.
Peningkatan biaya pengiriman, pasokan global yang terbatas, dan defisit Indonesia yang berkelanjutan sekitar 1 juta barel per hari membuat minyak cukup langka dan sulit dicari. Kondisi ini secara langsung meningkatkan harga jual, menciptakan leverage operasional yang tinggi bagi para emiten di sektor hulu migas yang punya eksposur penuh terhadap harga minyak. Lantas, Christian merekomendasikan beli saham MEDC dengan target harga di level Rp 1.950 per saham. “Meskipun terdapat hambatan struktural seperti tingkat penurunan produksi yang tinggi dan cadangan yang terbatas, kombinasi kelangkaan pasokan, distribusi yang terbatas, dan volatilitas geopolitik memberikan potensi peningkatan pendapatan yang signifikan,” tulis dia dalam risetnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News