KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham terkait sektor industri minyak dan gas (migas) kembali membara seiring lonjakan harga minyak dunia yang lagi-lagi terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Emiten di sektor ini pun berpeluang mendulang kinerja yang lebih baik pada sisa tahun 2026. Mengutip situs Trading Economics, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat 4,51% pada Kamis (23/7) pukul 17.40 WIB ke level US$ 90,74 per barel. Bersamaan dengan itu, harga minyak dunia jenis Brent naik 5,02% ke level US$ 98,79 per barel. Mayoritas harga saham emiten-emiten produsen maupun jasa migas turut meningkat setidaknya dalam sebulan terakhir, sebagai efek tingginya harga komoditas tersebut.
Baca Juga: Tender Offer Wajib PADA Berakhir, Kepemilikan INET Menjadi 53,58% Sebagai contoh, harga saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 20,87% dalam sebulan terakhir ke level Rp 1.390 per saham hingga Kamis (23/7). Harga saham PT Energi Mega Persada Tbk (
ENRG) juga naik 11,07% ke level Rp 1.555 per saham. Saham PT Rukun Raharja Tbk (
RAJA) ikut melompat 21,33% dalam sebulan terakhir ke level Rp 910 per saham. Anak usahanya yaitu PT Raharja Energi Cepu Tbk (
RATU) juga mengalami kenaikan harga saham 4,91% ke level Rp 5.025 per saham. Emiten jasa migas juga kecipratan sentimen harga minyak dunia. Misalnya, saham PT Elnusa Tbk (
ELSA) meroket 25% dalam sebulan terakhir ke level Rp 700 per saham. Saham PT Radiant Utama Interinsco Tbk (
RUIS) juga naik 8,51% ke level Rp 204 per saham. Ada pula saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (
APEX) naik 18,60% ke level Rp 153 per saham. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, prospek sektor migas pada semester II-2026 masih cukup positif, terutama untuk jangka pendek hingga menengah. Apalagi, saat ini harga minyak kembali menguat seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko gangguan pasokan. "Namun, volatilitasnya tetap tinggi karena pergerakan harga akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kelancaran distribusi minyak global," ujar dia, Kamis (23/7/2026). Tingginya harga minyak dunia tentu menjadi sentimen positif bagi produsen migas seperti MEDC dan ENRG karena berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata dan margin laba.
Baca Juga: BEI Ancam Forced Delisting 59 Emiten, Investor Wajib Waspada Sementara itu, emiten jasa migas seperti ELSA, RUIS, dan APEX mendapat manfaat secara tidak langsung. Dalam hal ini, harga minyak yang tinggi dapat mendorong perusahaan hulu meningkatkan aktivitas eksplorasi, pengeboran, dan perawatan sumur, sehingga membuka peluang perolehan kontrak baru. Di sisi lain, Ekky menganggap dominasi komoditas gas di dalam portofolio emiten produsen migas tidak selalu menjadi penghalang. Memang, harga gas acuan global dapat mengalami pelemahan akibat tingginya produksi dan persediaan. Kendati begitu, penjualan gas di Indonesia umumnya menggunakan kontrak jangka panjang, sehingga harga jual lebih banyak ditentukan oleh volume, formula kontrak, dan kepastian pembeli. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menambahkan, kenaikan harga minyak dunia yang terjadi akhir-akhir ini lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian konflik geopolitik di Timur Tengah, bukan karena permintaan fundamental. Artinya, harga minyak bisa bergerak volatil dan berbalik arah dengan cepat. Dari situ, ia melihat dominasi gas dalam portofolio emiten migas Indonesia justru menjadi keunggulan. Penjualan gas di pasar domestik melalui kontrak dengan skema take-or-pay ke PLN atau Pertamina akan memberikan visibilitas arus kas yang jauh lebih stabil daripada volatilitas harga minyak. "Emiten dengan porsi gas
take-or-pay tinggi justru paling defensif di tengah volatilitas ini," kata dia, Kamis (23/7). Wafi melanjutkan, strategi berupa mengunco kontrak bersifat take-or-pay jangka panjang dapat menjadi opsi bagi emiten produsen migas untuk menjaga kepastian pendapatan. Selain itu, upaya lindung nilai (
hedging) parsial melalui penjualan berjangka di level harga yang atraktif juga bisa dilakukan emiten untuk mengunci margin. Tak hanya itu, efisiensi biaya lifting perlu dilakukan emiten.
Baca Juga: Lelang Frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz Ditutup, Cek Saham Unggulan Sektor Telekomunikasi Sementara itu, Ekky menilai emiten produsen migas tidak dapat sekadar menunda atau mempercepat produksi mengikuti pergerakan harga minyak karena kegiatan produksi tetap terikat kontrak, kemampuan
reservoir, target
lifting, dan komitmen kepada pembeli. Strategi yang lebih tepat bagi emiten tersebut adalah memprioritaskan lapangan dengan biaya produksi rendah, menjaga kestabilan produksi, melakukan hedging secara selektif, serta tetap disiplin dalam menentukan
capital expenditure (capex). Untuk bisnis gas, emiten perlu memperkuat kontrak jangka panjang dan memastikan tambahan produksi telah memiliki pembeli. Sedangkan bagi emiten jasa migas, fokus utamanya adalah memperbesar backlog kontrak, menjaga utilisasi rig dan peralatan, serta memastikan setiap kontrak memiliki mekanisme penyesuaian terhadap kenaikan biaya bahan bakar dan kurs. "Emiten yang berpeluang unggul adalah perusahaan yang memiliki pertumbuhan produksi, biaya produksi rendah, pendapatan berbasis dolar AS, neraca yang sehat, serta proyek baru yang telah memiliki kontrak atau pembeli," terang dia. Ekky pun merekomendasikan
trading buy atau
buy on weakness saham MEDC dengan target harga terdekat di area Rp 1.550-Rp 1.600 per saham. Selain itu, dia juga merekomendasikan
buy on weakness saham ENRG dan ELSA dengan target harga masing-masing di kisaran Rp 1.800-Rp 2.000 per saham dan Rp 800–Rp 850 per saham.
Wafi juga menyebut, saham ENRG, ELSA, dan MEDC layak dipertimbangkan oleh investor. ENRG memiliki keunggulan berupa penjualan gas secara take or pay dari Blok Bentu dan Blok Siak yang memberikan visibilitas arus kas yang solid. Saham ELSA terdorong oleh akumulasi kontrak dengan Pertamina yang defensif, sedangkan MEDC dipandang paling diuntungkan oleh momentum harga minyak dunia dalam jangka pendek.
Baca Juga: IHSG Rawan Terkoreksi pada Jumat (24/7), Simak Rekomendasi Sahamnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News