Harga Minyak Melonjak di Tengah Konflik Timur Tengah, Bagaimana Prospeknya?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah global melonjak tajam di awal pekan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.

Melansir Bloomberg, pada Senin (9/3/2026) pukul 15.44 WIB harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 di New York Mercantile Exchange ada di level US$ 103,40 per barel, naik 13,75% dari akhir pekan lalu. 

Adapun, brent seharga US$ 106,69 per barel naik 15,10% dari akhir pekan lalu. Sebelumnya, pada Senin (9/3/2026) pagi, harga minyak sempat melonjak hingga 27%.


Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan kenaikan harga minyak murni dipicu oleh sentimen geopolitik dan ketakutan.

Baca Juga: Menilik Kinerja Emiten CPO di Tengah Fluktuasi Harga Komoditas Global

Menurut Wahyu setelah harga minyak menembus US$ 100 per barel, target teknikal berikutnya berada pada level US$ 110 dan US$ 120 per barel. Ia menuturkan bahwa Goldman Sachs memperingatkan harga bisa menyentuh US$150 per barel dalam hitungan minggu jika aliran energi dari Teluk benar-benar terhenti secara total

Jika ketegangan sedikit mereda namun ketidakpastian tetap tinggi, harga diperkirakan akan tertahan di kisaran US$ 80 - US$ 120/barel.

Wahyu mengatakan jika konflik di Timur Tengah bertahan lama dan melibatkan gangguan fisik pada infrastruktur energi seperti gangguan parsial berupa penurunan trafik di Selat Hormuz sebesar 50%, maka proyeksi harga minyak US$ 105 - US$ 120 per barel.

"Adapun, jika blokade total berupa penutupan penuh Selat Hormuz dengan hilangnya sekitar 20 juta barel/hari), maka proyeksi harga minyak US$ 150+ per barel. Apabila terjadi kerusakan infrastruktur termasuk serangan pada fasilitas produksi/kilang (seperti kasus Ras Tanura), maka proyeksi harga minyak US$ 120 - US$ 200," ucap Wahyu kepada Kontan pada Senin (09/03/2026).

Wahyu mengatakan terdapat beberapa variabel yang dapat menahan atau memicu harga ke level yang lebih tinggi lagi seperti penggunaan cadangan strategis (SPR) minyak darurat oleh negara-negara IEA (seperti AS) dapat memberikan bantuan sementara untuk meredam harga di bawah US$100. Variabel lainnya yang mempengaruhi adalah kapasitas cadangan OPEC+ dan blokade di Selat Hormuz.  

Baca Juga: Kontribusi Bisnis Batubara Menyusut, TBS Energi (TOBA) Fokus Perluas Bisnis Hijau

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News