KONTAN.CO.ID - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat berusaha meredam kekhawatiran publik terkait lonjakan harga energi setelah perang dengan Iran memicu gejolak di pasar minyak global. Mengutip
Reuters, pemerintahan Donald Trump pada Selasa (10/3) menyatakan kenaikan harga minyak dan gas yang terjadi belakangan ini hanya bersifat sementara, meskipun konflik dengan Iran terus memicu ketidakpastian di pasar energi. Harga minyak dunia sempat melonjak pada Senin hingga menembus US$ 119 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global, terutama setelah pemangkasan produksi oleh Arab Saudi dan sejumlah produsen minyak lainnya.
Kenaikan tajam harga energi tersebut langsung menekan pasar saham dan memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi yang lebih luas. Situasi ini juga berpotensi menjadi risiko politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu (midterm election) tahun ini.
Gedung Putih sebut lonjakan harga energi hanya sementara
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan operasi militer Amerika Serikat justru diyakini akan membantu menurunkan harga energi dalam jangka panjang. “Yakinlah kepada masyarakat Amerika bahwa kenaikan harga minyak dan gas baru-baru ini hanya bersifat sementara. Operasi ini pada akhirnya akan menghasilkan harga bensin yang lebih rendah dalam jangka panjang,” kata Leavitt dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Naik Hampir US$ 3 di Pagi Ini, Didorong Krisis Timur Tengah Harga minyak mentah pada Selasa mulai turun dari lonjakan tajam sehari sebelumnya. Namun, arah pergerakan harga bensin hingga menjelang pemilu pada 3 November mendatang masih belum pasti. Survei Reuters/Ipsos sebelumnya menunjukkan banyak pemilih di Amerika Serikat masih mengeluhkan tingginya biaya hidup. Bahkan sebelum perang Iran terjadi, sebagian warga menilai pemerintah belum cukup efektif mengatasi masalah tersebut.
Selat Hormuz jadi perhatian utama
Leavitt mengatakan Presiden Trump dan tim energinya terus memantau kondisi pasar energi serta berkomunikasi dengan para pelaku industri. Ia juga menyebut militer AS sedang menyiapkan berbagai opsi untuk memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia setiap hari melewati jalur laut yang berada di dekat Iran tersebut. Ketegangan di kawasan itu bahkan membuat perusahaan asuransi maritim menghentikan perlindungan risiko perang, sehingga sebagian besar kapal tanker minyak memilih menunda pelayaran.
Tonton: BREAKING! Iran Tembakkan Gelombang Rudal Pertama di Era Pemimpin Baru ke Israel Militer AS serang fasilitas rudal Iran
Ketika ditanya mengenai kapan perang akan berakhir, Leavitt mengatakan operasi militer akan dihentikan setelah tujuan strategis Amerika Serikat tercapai.
Menurutnya, militer AS saat ini sedang bergerak untuk melumpuhkan kemampuan produksi rudal Iran. Ia juga mengungkapkan bahwa pesawat pengebom siluman Northrop B-2 Spirit milik Amerika Serikat baru-baru ini menjatuhkan bom seberat 2.000 pon ke sejumlah fasilitas rudal bawah tanah di Iran. “Operasi ini akan berakhir ketika panglima tertinggi memutuskan bahwa tujuan militer telah tercapai,” ujar Leavitt. Pernyataan tersebut muncul setelah sebelumnya Presiden Trump memberikan sinyal yang berbeda terkait kemungkinan kapan konflik dengan Iran akan berakhir, sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar global.