KONTAN.CO.ID - Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada Rabu dan ditutup di level tertinggi dalam beberapa pekan, seiring negosiasi Amerika Serikat-Iran yang buntu membuat investor semakin khawatir akan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah yang berkepanjangan. Data pemerintah AS juga menunjukkan penurunan (drawdown) stok minyak mentah dan bahan bakar yang lebih besar dari perkiraan dalam sepekan terakhir, sehingga turut mendorong harga minyak naik. Melansir
Reuters, harga kontrak berjangka Brent untuk Juni naik untuk sesi kedelapan berturut-turut dan ditutup menguat US$ 6,77 atau 6,1% menjadi US$ 118,03 per barel, level tertinggi sejak 31 Maret. Patokan global itu bahkan kembali naik setelah penutupan perdagangan dan menyentuh US$ 120 per barel, pertama kalinya sejak Juni 2022.
Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Juni naik US$ 6,95 atau 7% menjadi US$ 106,88 per barel, level tertinggi sejak 7 April. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden Donald Trump telah menanyakan kepada perusahaan minyak AS mengenai cara untuk mengurangi dampak jika AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang berpotensi berlangsung hingga berbulan-bulan. Hal ini menambah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah dapat berlangsung lama. Berdasarkan perhitungan Reuters hingga pertengahan April, pasokan minyak mentah senilai lebih dari US$ 50 miliar telah hilang sejak perang Iran dimulai. “Jika Trump siap memperpanjang blokade, gangguan pasokan akan semakin parah dan terus mendorong harga minyak lebih tinggi,” kata analis Haitong Futures Yang An.
Baca Juga: Emas Ambruk ke Level Terendah Sebulan! The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Makin Panik Musim Puncak Permintaan Tambah Kekhawatiran Pasokan
Tanda-tanda pasokan yang semakin ketat mulai terlihat di AS. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun lebih dari 6 juta barel pekan lalu, jauh lebih besar dibanding perkiraan analis yang hanya sekitar 200.000 barel. Persediaan bensin dan distilat (yang mayoritas merupakan diesel) di AS juga turun lebih besar dari perkiraan, memunculkan kekhawatiran potensi kelangkaan bahan bakar di negara konsumen terbesar dunia tersebut, tepat saat musim puncak perjalanan musim panas mulai berlangsung. “Harga kemungkinan akan kembali mendapatkan dukungan seiring mendekatnya musim panas, ketika kenaikan permintaan produk bahan bakar bertemu dengan keterbatasan pasokan,” tulis analis RBC Capital Markets pada Rabu. Di sisi lain, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) telah memberi tahu beberapa pelanggan bahwa mereka dapat memuat dua jenis minyak mentah dari luar kawasan Teluk bulan depan, karena Selat Hormuz masih ditutup, menurut dua sumber yang mengetahui hal tersebut dan sebuah pemberitahuan yang dilihat Reuters.
Investor Menilai Dampak UEA Keluar dari OPEC
Investor juga menilai dampak keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari OPEC. Para analis tidak memperkirakan adanya dampak besar dalam jangka pendek terhadap pasar. Dalam waktu dekat, produsen Timur Tengah akan menyalurkan pasokan semaksimal mungkin, kata Kepala Komoditas Investec Callum Macpherson. Namun, Wood Mackenzie menilai keluarnya UEA merupakan retakan paling signifikan dalam sejarah OPEC dan meningkatkan risiko kelebihan pasokan (oversupply) yang dapat menekan harga minyak mulai 2027.
Tonton: Blokade Hormuz Bikin Rusia Kaya Mendadak “Kepergian UEA dari OPEC akan berdampak minimal terhadap fundamental pasar pada 2026, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka,” kata Kepala Analis Wood Mackenzie Simon Flowers. “Namun setelah tahun ini, kehilangan UEA akan memperberat tantangan OPEC dalam menyeimbangkan pasar dan meningkatkan risiko oversupply yang dapat melemahkan harga,” tambah Flowers. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News