Harga Minyak Melonjak Hampir 3% Usai Perundingan Rusia–Ukraina Buntu



KONTAN.CO.ID -  Harga minyak dunia melonjak hampir 3% pada Rabu (18/2/2026), menyusul berakhirnya perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang hanya berlangsung sekitar dua jam di Jenewa, Swiss. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut pembicaraan tersebut berjalan sulit dan menilai Moskow sengaja mengulur waktu.

Kontrak berjangka Brent menguat US$1,85 atau 2,7% ke level US$69,27 per barel pada pukul 12.27 GMT. Sementara itu, minyak mentah acuan AS WTI naik US$1,78 atau 2,9% ke US$64,11 per barel.


Zelenskiy menuding Rusia tidak serius mendorong kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung empat tahun. Di sisi lain, kepala negosiator Rusia Vladimir Medinsky menyatakan perundingan berlangsung alot namun tetap profesional, serta membuka peluang putaran lanjutan dalam waktu dekat.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Hampir 2% di Tengah Kekhawatiran Kelebihan Pasokan Global

Perundingan yang dimediasi Amerika Serikat ini berlangsung di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang belakangan menyebut keberhasilan dialog sangat bergantung pada langkah Ukraina. 

Ketegangan pasokan energi di Eropa juga meningkat setelah Hungaria menghentikan pengiriman diesel ke Ukraina, menyusul gangguan aliran minyak Rusia melalui wilayah Ukraina ke Slovakia dan Hungaria.

Perkembangan AS–Iran Jadi Perhatian

Sehari sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) mencapai pemahaman mengenai “prinsip-prinsip panduan” dalam perundingan nuklir. Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan, kesepakatan final belum dekat.

Pada saat yang sama, media pemerintah Iran melaporkan penutupan sementara sebagian Selat Hormuz karena alasan keamanan saat Garda Revolusi menggelar latihan militer. 

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Merosot Akibat Sanksi Rusia dan Manuver OPEC+

Selat tersebut kemudian dibuka kembali setelah beberapa jam. Iran dan Rusia juga dijadwalkan menggelar latihan angkatan laut di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara, menurut laporan kantor berita Fars News Agency.

Konsultan politik Eurasia Group memperkirakan ada peluang 65% terjadinya serangan militer AS terhadap Iran hingga akhir April, sebuah risiko geopolitik yang turut menopang harga minyak.

Pelaku pasar kini menanti laporan persediaan mingguan dari American Petroleum Institute yang dirilis Rabu, serta Energy Information Administration pada Kamis. Analis memperkirakan stok minyak mentah AS meningkat pekan lalu, sementara persediaan distilat dan bensin cenderung turun.

Selanjutnya: Mandatori B50 Terancam Molor, Sektor Tambang Protes

Menarik Dibaca: Kondom Bukan Sekadar Alat Kontrasepsi, juga Bentuk Self-care