KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak dan gas dunia mulai mendorong perubahan pola konsumsi energi global. Di tengah volatilitas yang tinggi, sektor industri masih menunjukkan ketahanan, sementara konsumsi rumah tangga cenderung melemah dan penggunaan energi terbarukan kian meningkat. Berdasarkan situs Trading Economics pada Selasa (24/3) pukul 11.14 WIB, harga minyak mentah jenis WTI sudah mencapai level US$ 91,88 per barel, naik 4,25% secara harian. Sejak awal tahun 2026 atau year to date, harga WTI melambung 55,32%.
Baca Juga: Geopolitik Memanas, Harga Minyak Brent Bisa Tembus US$ 120 per Barel Kenaikan harga juga terjadi pada minyak mentah jenis Brent yang 3,62% secara harian ke US$ 104,24 per barel. Di sepanjang 2026, harga Brent sudah melejit hingga 65,05%. Sementara itu, harga gas alam juga mengalami kenaikan sebesar 1,30% menjadi US$ 2,94 per MMBtu dan dalam sebulan sudah naik sebesar 2,87%. Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan prospek konsumsi energi global dalam jangka pendek menunjukkan pola yang cukup kontras antara sektor industri dan ritel. "Meskipun permintaan pemanas rumah tangga mulai memudar, aktivitas manufaktur di pusat-pusat ekonomi dunia tetap menunjukkan ketangguhan yang menambah beban pada konsumsi solar dan energi industri," ujar Sutopo kepada Kontan pada Selasa (17/3). Ia juga menyoroti ketidakpastian operasional fasilitas LNG di Qatar akibat konflik regional yang menekan pasokan global. Kondisi ini mendorong negara-negara importir untuk mencari sumber energi alternatif dengan biaya lebih tinggi untuk menjaga ketahanan energi. Sementara itu, analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan konsumsi energi global dalam jangka pendek menunjukkan pola fragmentasi. "Bahan bakar fosil pertumbuhannya mulai melambat (kurang dari 1%) karena efisiensi energi dan peralihan ke alternatif lain akibat harga yang terlalu mahal," ujar Wahyu. Menurut Wahyu, energi terbarukan justru mendapat keuntungan di tengah harga migas yang mengalami kenaikan.
"Konsumsi listrik dari tenaga surya dan angin diproyeksikan melonjak lebih dari 17% tahun ini sebagai langkah darurat negara-negara untuk mengurangi ketergantungan pada migas yang volatil," kata Wahyu. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada pasar, tetapi juga mempercepat pergeseran struktur konsumsi energi global dalam jangka pendek.
Baca Juga: Wacana Pengalihan Wewenang Impor Bungkil Kedelai, Begini Prospek Kinerja CPIN Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News