Harga Minyak Melonjak ke Rekor Tertinggi Dalam 7 Tahun, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah ditutup melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2014. Sentimen datang karena kekhawatiran investor terkait ketegangan politik global yang melibatkan produsen utama seperti Uni Emirat Arab dan Rusia yang dapat memperburuk prospek pasokan yang sudah ketat.

Selasa (18/1), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2022 ditutup naik US$ 1,03 atau 1,2% menjadi US$ 87,51 per barel.

Serupa, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2022 juga melonjak US$ 1,61 atau 1,9% dan ditutup pada US$ 85,43 per barel.


Kedua tolok ukur tersebut menyentuh level tertinggi sejak Oktober 2014, dan beberapa sumber OPEC bahkan menyebut harga minyak ke US$ 100 per barel saat ini, tidak di luar jangkauan lagi.

Kekhawatiran pasokan meningkat di minggu ini setelah kelompok Houthi Yaman menyerang Uni Emirat Arab. Hal tersebut meningkatkan permusuhan antara kelompok yang berpihak pada Iran dan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

Baca Juga: Harga Minyak Memanas, Dipicu Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Setelah meluncurkan serangan drone dan rudal yang memicu ledakan di truk bahan bakar dan menewaskan tiga orang, gerakan Houthi memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan lebih banyak fasilitas. Sementara UEA pun tidak tinggal diam dan mengatakan mereka berhak untuk "menanggapi serangan teroris ini."

Serangan terhadap sekutu terkemuka Teluk Arab, Amerika Serikat, membawa perang antara kelompok Houthi dan koalisi yang dipimpin Arab Saudi ke tingkat yang baru. Ini dapat menghambat upaya untuk menahan ketegangan regional ketika Washington dan Teheran bekerja guna menyelamatkan kesepakatan nuklir.

"Kerusakan pada fasilitas minyak UEA di Abu Dhabi tidak signifikan, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang gangguan pasokan yang lebih banyak lagi di kawasan itu pada 2022," kata Louise Dickson, Senior Oil Markets Analyst di Rystad Energy.

"Serangan itu meningkatkan risiko geopolitik di kawasan itu dan mungkin menandakan kesepakatan nuklir Iran-AS tidak tercapai di masa mendatang. Ini juga berarti menahan minyak Iran keluar dari pasar, meningkatkan permintaan untuk minyak mentah kelas serupa yang berasal dari tempat lain," tambah Dickson.

Perusahaan minyak UEA, ADNOC mengatakan, telah mengaktifkan rencana kesinambungan bisnis untuk memastikan pasokan produk yang tidak terputus ke pelanggan lokal dan internasional setelah insiden di depot bahan bakar Mussafah.

Secara terpisah, seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS menyebut, pasukan Rusia yang dikerahkan ke Belarus, untuk apa yang Moskow dan Minsk katakan, akan menjadi latihan militer gabungan meningkatkan kekhawatiran bahwa mereka "berpotensi" dapat digunakan untuk menyerang negara tetangga Ukraina.

Rusia telah membangun kehadiran pasukan besar di dekat perbatasan Ukraina, memicu kekhawatiran invasi. Pejabat AS dan Jerman telah membahas cara untuk menghalangi Rusia, yang dapat mencakup penghentian pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia ke Eropa tengah.

Baca Juga: Wall Street Ambles: Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Melemah Lebih Dari 1,5%

Pada saat yang sama, produsen dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sedang berjuang untuk memompa pada kapasitas yang diizinkan berdasarkan perjanjian OPEC+ dengan Rusia dan sekutunya untuk menambah 400.000 barel per hari setiap bulan.

OPEC, pada hari Selasa, berpegang pada perkiraannya untuk pertumbuhan yang kuat dalam permintaan minyak dunia pada tahun 2022 meskipun varian virus corona Omicron dan perkiraan kenaikan suku bunga.

Analis Goldman Sachs memperkirakan, persediaan minyak di negara-negara OECD turun ke level terendah sejak 2000 pada musim panas, dengan harga minyak Brent berpotensi naik menjadi US$ 100 per barel akhir tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari