Harga Minyak Melonjak Lebih dari 2%, Brent Kembali ke Atas US$ 90 Per Barel



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak diperdagangkan melonjak lebih dari 2% pada hari ini setelah Amerika Serikat (AS) menyerang sebuah pulau Iran di Selat Hormuz dan memicu pembalasan dari Teheran, ketika konflik di Timur Tengah meluas ke bulan keenam.

Senin (31/8/2026) pukul 10.00 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik US$ 2,51 atau 2,85% ke US$ 90,61 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 menguat US$ 2,13 atau 2,55% menjadi US$ 85,53 per barel.


Pasukan A.S menyerang dua peluncur rudal di pulau Larak Iran yang berada di selat Hormuz pada hari Minggu (30/8/2026), dan jadi serangan AS pertama yang diketahui terhadap negara Teluk tersebut sejak akhir Juli.

Sebagai balasannya, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, media Iran melaporkan pada hari Senin dengan mengutip Garda Revolusi Iran.

Baca Juga: Harga Emas Capai Level Terendah 2 Minggu, Terseret Sikap Hawkish Ketua The Fed

"Sepertinya kita berada dalam fase eskalasi lainnya. Berapa lama hal ini akan berlangsung tidak dapat ditentukan. Bisa dalam hitungan hari, bisa dalam hitungan minggu," kata analis pasar IG Tony Sycamore.

Grafik teknis menunjukkan bahwa jika konflik meningkat dan mendorong WTI di atas resistensi di US$ 85,80 ke US$ 85,90 per barel, hal ini akan membuka jalan untuk kenaikan lebih lanjut, awalnya ke level tertinggi minggu lalu di US$ 87,69 diikuti oleh level tertinggi di bulan Juli US$ 93,50 per barel, kata Sycamore.

Negosiasi untuk mengakhiri konflik menemui jalan buntu sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur aliran seperlima minyak dunia sebelum perang dimulai pada akhir Februari.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Reuters pada hari Minggu bahwa AS kemungkinan akan mengeluarkan sanksi sekunder baru setiap minggu terhadap Iran, dengan tujuan memisahkan republik Islam tersebut sepenuhnya dari sistem keuangan berbasis dolar.

Brent dan WTI diperkirakan akan mencatat penurunan kecil di bulan Agustus setelah anjlok lebih dari 4% pada minggu lalu, yang merupakan penurunan mingguan pertama dalam tiga minggu terakhir.

Meskipun jalan menuju kesepakatan untuk membuka kembali selat itu sulit dicapai, peningkatan aliran minyak melalui selat Hormuz menjaga kekhawatiran atas gangguan pasokan, kata analis ANZ dalam catatan kliennya.

Jumlah kapal komoditas yang terlihat berlayar melalui Selat Hormuz selama akhir pekan turun menjadi lima kapal per hari, data pengiriman menunjukkan pada hari Senin, mencerminkan kehati-hatian di antara perusahaan-perusahaan yang waspada terhadap serangan terhadap kapal.

Baca Juga: Tiga Maskapai BUMN China Catat Rugi 7 Tahun Beruntun, Harga Avtur Jadi Beban

Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan pada hari Minggu bahwa sebuah kapal tanker terkena proyektil saat berlayar masuk melalui selat tersebut pada hari Sabtu.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa minyak dari kesepakatan yang baru saja dicapai dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis AS yang telah turun mendekati ke level terendah dalam 44 tahun.